PERPUSTAKAAN: ANTARA PEMBERDAYAAN DAN BUDAYA GEMAR MEMBACA


Firman Parlindungan

Rajin ke perpustakaan atau bersiap menjadimasyarakat atau  mahasiswa yang “buta” membaca, sepertinya harus menjadi pilihan berat bagi masyarakat, khususnya mahasiswa. Sejatinya perpustakaan merupakan sarana alternatif bagi mahasiswa untuk mengakses literature tentang ilmu pengetahuan dengan hemat. Karena tidak diperlukan biaya yang besar untuk mendapatkan akses tersebut. Berbeda apabila harus selalu membeli buku atau ke warnet, tentunya akan dibutuhkan biaya yang lebih besar dibanding dengan biaya mengakses perpustakaan. Keuntungan pertama yang didapatkan mahasiswa dalam memanfaatkan perpustakaan yaitu: tidak perlu merogok kantong sampai bolong sehingga mengurangi kiriman per bulan.

Tulisan ini, merupakan respon penulis terhadap fenomena lemahnya minat membaca dan minimnya akses perpustakaan di masyarakat Indonesia pada umumnya dan mahasiswa secara khusus. Sebagai mahasiswa, atau penulis lebih senang menyebutnya dengan sebutan “calon cendekia”, membaca dan menulis harus dijadikan suatu kebiasaan. Karena menulis dan membaca merupakan ruh mahasiswa dalam bergelut di bidang akademik. Keuletan dalam menulis dan keterampilan dalam membaca akan membuktikan dan membedakan kualitas akademik seorang mahasiswa dengan mahasiswa lainnya. Menulis juga akan sangat dipengaruhi dengan seberapa besar intensitas dan kuantitas literature yang dibaca. Dalam hal ini, tentu saja membaca menjadi lebih penting sebelum menulis. Otomatis dalam membaca dibutuhkan akses terhadap informasi ilmu pengetahuan. Salah satunya, akses yang paling mudah dijangkau, yaitu perpustakaan. Apa yang salah dengan perpustakaan?, mengapa mahasiswa begitu enggan mengunjungi perpustakaan?

Jawaban yang tepat untuk pertanyaan di atas, akan lebih bijak jika kita menelaah duduk persoalannya dari berbagai sudut pandang. Dalam bulletin Fenomena LGM FKIP UNISMA Volume 1 Issue II menyebutkan bahwa “sudut pandang anda mempengaruhi kualitas yang di pandang”, maka kecermatan memilih sudut pandang dalam menyampaikan opini memaksa penulis untuk lebih berhati-hati dalam menyimpulkan suatu persoalan, sehingga tidak terjadi diskursus pemahaman. Kembali ke persoalan perpustakaan, secara garis besar alasan mengapa mahasiswa enggan ke perpustakaan bisa disebabkan oleh gaya hidup mahasiswa yang hedon, lebih suka bersenang-senang, “leyeh-leyeh”, atau dengan alasan membaca bukan hobi. Di sisi lain bisa disebabkan karena zaman sekarang akses dunia maya lebih trendy dari pada perpustakaan. Di dunia maya, “Sekali klik” informasi yang diinginkan pun hadir dengan berbagai macam pilihan. Berbeda dengan perpustakaan dimana diperlukan waktu lebih lama untuk menemukan informasi yang diinginkan. Jika ditinjau dari aspek pelayanan perpustakaan, hal yang membuat mengapa mahasiswa “malas” ke perpustakaan adalah karena pelayanan yang “unacceptable”. Keramahan pegawai perpustakaan salah satu alasannya. Menurut Negara lain, orang Indonesia terkenal dengan keramahannya, tapi mungkin untuk kasus perpustakaan, tidak. Buktinya bisa ditemukan di perpustakaaan yang ada di Indonesia, hanya sedikit perpustakaan yang pegawainya ramah, sedangkan lainya “acuh tak acuh” menjadi motto pelayanan, . Faktor lain, kurangnya jam pelayanan yang tersedia, ditambah dengan budaya “molor” atau “jam karet” dalam membuka jam pelayanan menjadi alasan tambahan bagi mahasiswa untuk “malas” mengunjungi perpustakaan. Ironisnya, dengan jam pelayanan yang terbatas tersebut, perpustakaan pun sering tutup dalam seminggu, akibatnya waktu pelayanan semakin berkurang. . Belum lagi dengan persoalan minimnya koleksi literature yang tersedia. Rasanya cukup sudah alasan untuk menjawab mengapa mahasiswa enggan untuk mengakses perpustakaan.

Bertitik tolak pada gejala-gejala di atas, penulis memberanikan diri untuk menarik satu presaposisi yaitu “rendahnya minat baca masyarakat, khususnya mahasiswa, lebih , dikarenakan minimnya akses perpustakaan itu sendiri baik dari segi pelayanan maupun koleksinya. Hal ini diluar dari faktor internal mahasiswa”. Jika akses perpustakaan menjadi perhatian penting berbagai pihak, tentu akan mendorong budaya membaca mahasiswa. Sehingga mahasiswa, tidak akan “buta” membaca seperti yang penulis sebutkan di awal tulisan. Dan tidak menutup kemungkinan akan menunjang percepatan penambahan jumlah professor, dosen, dan mahasiswa berprestasi di lingkungan kampus itu sendiri.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah di atas? dan siapa yang harus mengatasinya?. Sudah barang tentu banyak pihak yang harus terlibat untuk memikirkan dan menemukan solusi cerdas mengatasi rendahnya budaya membaca mahasiswa, karena akses perpustakaan, seperti yang sudah penulis paparkan. Tentu saja pemegang otoritas kampus memiliki porsi yang lebih besar. Karena dengan kekuasaannya, kebijakan tentang perbaikan kualitas dan kuantitas perpustakaan dapat terwujud. Dan niat baik tersebut juga harus diiringi dengan dukungan dosen dan mahasiswa. Mahasiswa pun dalam hal ini harus mampu membuktikan kepada pemegang otoritas kampus, bahwa perpustakaan memang sangat dibutuhkan untuk pengembangan akademiknya. Memang agaknya mustahil dapat segera terwujud. Namun penulis percaya perbaikan dapat dilakukan hanya dengan merubah jalan pikiran yang sulit menjadi mudah. Seperti yang dikatakan Napoleon Bonaparte “impossible only a word to be found in the dictionary of fools”, imposible hanya kata yang ada di kamus orang-orang bodoh. Jadi membuktikan diri untuk butuh terhadap perpustakaan bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan oleh mahasiswa jika memang diawali dengan niat yang lurus. Sehingga perbaikan kualitas dan kuantitas perpustakaan nantinya akan menjadi prioritas penting di lingkungan kampus. Semoga tulisan ini dapat menginspirasi pembaca untuk gemar membaca. Tetap Semangat..!!

6 thoughts on “PERPUSTAKAAN: ANTARA PEMBERDAYAAN DAN BUDAYA GEMAR MEMBACA

  1. jika dalam sebuah kelas ada 10 orang yang gemar membaca dan mampu menelaah apa yang di bacanya, tinggal dikalikan aja misal dalam sekolah ada 15 kelas maka maka dalam satu sekolahan akan ada 150 siswa yang berprestasi…dan jika dikalikan jumlah sekolah dalam satu kecamatan tinggal di kali aja jumlahnya, maka kemungkinan besar dalam satu kecamatan akan memiliki generasi yang mampu membawa perubahan dalam suatu daerah..gak perlu repot2 cari pekerja dari luar kota, tapi masalahnya budaya membaca masih disepelekan, terutama generasi muda sekarang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s