Ibu dan Tempurung


Badrul, anak satu-satunya Nenek Dullah. Mereka tinggal di desa kecil jauh dari kota. Desa yang sangat tenteram. Desa yang menebarkan aroma tumbuhan ibarat surganya dunia. Desa inilah tempat Nenek Dullah dan keluarganya membentuk senyum masa depan. Desa ini pula lah tempat di mana Badrul menyulam mimpi-mimpinya. Badrul kecil dibesarkan hingga meraih gelar sarjana. Untuk membiayai anak satu-satunya itu, siang dan malam Nenek Dullah membanting tulang seorang diri. Semua itu dijalaninya demi cinta kepada suaminya yang telah tiada sejak Badrul baru mulai belajar berjalan. Kakek Dullah menghembuskan nafas terakhirnya saat sedang mencari nafkah diladang.

Hari demi hari mereka hadapi dengan gembira. Nenek Dullah berusaha sekuat tenaga agar Badrul bisa menyandang gelar sarjana. Agar Badrul pun  bisa fokus dengan studinya, Nenek Dullah melarang ia untuk bekerja. Padahal Badrul sudah mampu untuk mencari nafkah dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Ia pun tidak ingin terus menerus menyusahkan orang tuanya. Ia tidak mau hanya berpangku tangan untuk meraih masa depan dan cita-citanya. Tapi, demi rasa cintanya kepada Nenek Dullah ia pun tak bisa memberontak dan dengan berat hati menuruti keinginan ibunya.

“wes toh le… jangan mendebat masalah ini lagi. Pokeke kamu belajar dan terus belajar sampai kamu benar-benar mapan. Apa kamu mau seperti Bapak mu? Hidup susah, untuk mencari makan satu hari harus pontang-panting mencari duit kesana kemari. Tapi apa yang didapat?. Untuk memenuhi perut satu oarng pun tidak cukup. Yang penting kamu belajar setelah selesai nanti baru bekerja. Tak usahlah kau memikirkan kerja dulu. Ibumu ini masih kuat kok membiayai kamu”.

“tapi bu….”

“sudah tidak ada tapi-tapi, kalau kamu sayang ibu turuti keinginan ibu, pokoke sinau” Nenek Dullah memotong pembelaan Badrul yang sedang bersikukuh ingin bekerja sambil belajar. Namun Badrul pun tak berdaya. Ia sangat mencitai ibunya. Ia tidak mau menyakiti hati ibunya itu. Ia sadar selama ini sosok malaikat itulah yang telah membimbing dan membesarkanya sendirian. Dengan tangannya Nenek Dullah memberi kasih sayang ibu dan memainkan peran seorang bapak demi Badrul seorang. Badrul paham betul  keputusan ibunya itu memang yang terbaik untuknya. Tetapi hati kecilnya menjerit. Ia tidak tega melihat ibunya harus membanting tulang untuk dirinya yang sudah mampu berdiri di atas kaki sendiri. Seharusnya ia lah yang harus memberi ibunya itu ketenangan. Ia dirubung dilema yang menggetarkan jiwanya. Melihat guratan keriput di dahi Nek Dullah, pertanda ibunya sudah tua, ia tidak bisa berkata-kata lagi.

Dalam kesehariannya, kata-kata Nenek Dullah terus menjadi bayang yang menghantui diri Badrul, “pokoke sinau”. Tapi kata-kata itu pula yang membuat Badrul bersungguh-sungguh dengan pendidikannya.  Kata-kata itu telah mendongkrak semangat belajarnya agar segera dituntaskan. Dan ia harus mendapatkan gelar sarjana seperti pinta ibunya dengan segera. Setelah itu ia mematrikan janji untuk membalas jasa orangtua yang telah merawat dan membesarkanya sampai saat sekarang; membahagiakan ibunya.

Dan akhirnya, Badrul pun meraih gelar sarjananya. Ia mendapat predikat cummlaud. Lalu Badrul pun ingin segera mencari pendamping hidupnya. Agar ada yang mengurusi ibunya ketika ia bekerja nanti. Nenek Dullah pun tidak menolak keingginan Badrul, ia mengerti kondisi psikis anaknya walau tidak pernah mengeyam ilmunya; bahwa anaknya harus menyalurkan kebutuhan bioligisnya dengan berumahtangga dan membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Keluarga yang sarat dengan kebahagiaan. Dan Badrul pun menikah dengan gadis kota. Minah namanya.

Sesuai dengan adat Jawa; mempelai pria harus tinggal mengikuti istrinya untuk beberapa lama. Mengingat ibunya yang telah tua, Badrul yang merasa dibesarkan, memboyong Nenek Dullah ke kota setelah disepakati oleh istrinya tercinta.

Ketika Minah Hamil, Nenek Dullah mulai sakit-sakitan dan bahkan muntah darah. Minah mendesak agar ibunya dibuatkan tempat terpisah, karena mungkin ibunya terkena TBC. Ia khawatir jika anaknya lahir nanti bisa-bisa tertular penyakit itu.

“Mas, sebaiknya Ibu dibuatkan gubug saja dibelakang rumah. Saya khawatir kalau penyakit Ibu bisa menulari anak kita. Apa kamu mau anak kita sakit-sakitan diusia dini?”

“Ada-ada saja kamu Minah!!, bagaimana kamu bisa berpikiran seperti itu? Dia itu ibuku berarti dia juga ibumu. Apa kamu tega mengasingkannya di saat ia sudah tua renta seperti itu? Dia membutuhkan kita..anaknya..!!”setengah marah Badrul terkejut dengan permintaan istrinya.

Tapi kamu juga harus memikirkan nasib masa depan anak mu ini mas!! Kalau dari kecil dia sudah sakit-sakitan, jangan-jangan anak ini bakal tak panjang umurnya!! Minah bersikeras.

“Asstaghfirullah… istighfar Minah..Istighfar!!.. setan apa yang sedang merasuki mu?. Minah, hidup mati itu ada di tangan Allah, jangan kamu mendahului-Nya. Apalagi kamu membawa-bawa Ibu sebagai kambing hitam.. durhaka.. tidak baik”

alaah sudah lah mas… kalau kamu tidak mau membuatkan ibu rumah di belakang, antarkan saja aku ke rumah orang tuaku.” Minah sangat kesal dan ia pun berlalu.

Dengan hati berat Badrul membuatkan gubug di belakang rumahnya dan meminta ibunya tinggal disitu. Meskipun tidak melek huruf, nenek Dullah cukup tahu diri. Ia menganggap umurnya adalah sisa-sisa kesenangan hidup yang telah dinikmati dan dilaluinya. Ia cukup bahagia melihat anak dan menantunya hidup bahagia. Apalagi akan segera mempunyai cucu. Maka, dengan senang hati nenek Dullah tinggal di gubug belakang rumah.

Mula-mula  segala kebutuhan Nenek Dullah terpenuhi, namun lama-kelamaan sering terlupakan. Makanan ditaruh di depan gubug dan nenek Dullah mengambilnya dari dalam. Piring dan gelas pecah, Badrul lupa menggantinya. Dan akhirnya tempurung yang tergeletak di dekat gubug dipungut Nek Dullah untuk tempat makan dan minumnya. Demikian hari-hari Nek Dullah berlalu. ia menghabiskan sisa umurnya itu digubug reot yang tak layak huni. Ia hanya menunggu malaikat maut mengambil nyawanya. Pahit memang bagi seorang nenek untuk hidup dalam kepahitan, tapi bagi nenek Dullah hal ini adalah kegembiraan; kegembiraan anaknya. Badrul tidak lagi mengurusi bahkan menjenguk ibunya. Ia telah melupakan janjinya sewaktu muda dulu. Janji itu telah teredam dengan megahnya kehidupan dunianya.

Anak Badrul lahir laki-laki dan diberi nama Bukari. Ketika mulai besar, Bukari dilarang bermain-main di sekitar gubug bahkan mendekat pun tak boleh.

Suatu saat Badrul dan Minah pergi, Bukari di rumah sendirian. Ia ingin tahu mengapa dilarang mendekati gubug. Ia mengintip ke dalam gubug dan terlihat ada nenek pucat berambut putih sedang berbaring. Bukari bertannya dan Nenek Dullah menjawab, bahwa Nanek Dullah adalah neneknya, ibu dari bapaknya.

“Nek bukakan pintu nek,” Pinta Bukari

Alangkah gembiranya si nenek, seolah darah segar menyiram wajahnya yang pucat, seketika menjadi berseri-seri karena girangnya. Langkah lucu dan suara anak inilah yang selama ini dirindukannya. Ia ingin memeluk dan mencium cucunya itu. Bukari heran dan bertanya mengapa neneknya makan dan minum pakai  tempurung. Neneknya menjawab,

“Bukari, nenek sudah tua tidak usah pakai piring dan  gelas, cukup pakai tempurung saja.”

Bukari pun kembali kerumah selagi ayah dan ibunya belum pulang. Ia takut, kalau ketahuan pasti dimarahi. Hari itu menjadi hari terindah bagi Nenek Dullah. Gubug yang reot itu seakan berubah menjadi rumah megah di tengah taman surga. Singkat memang pertemuanya dengan cucu kesanyangannya. Tapi tak masalah, baginya bertemu dan mendengar suara lucu Bukari, walau sekejap, adalah anugerah.

Pada suatu hari Bukari diajak ayah dan ibunya berjalan-jalan ke kota. Ia melihat tempurung di dekat selokan, teronggok diantara tumpukan sampah. Ia meminta kepada orang tuanya untuk mengambil tempurung itu. Permintaan aneh itu ditolak oleh badrul dan Minah. Mereka gengsi dan malu untuk mengambilnya apalagi kalau orang-orang melihat anaknya memainkan tempurung. Sampah tak bermanfaat bagi orang kota. Dan hanya pantas diambil dan digunakan oleh orang-orang desa yang tak melek teknologi.

Tapi sambil menagis Bukari meminta terus agar diambilkan tempurung itu. Terpaksa ibunya mengambilkan lalu bertanya,

“Bukari sayang, untuk apa tempurung ini?”

Tanpa pikir panjang si kecil, Bukari menjawab,

“Untuk tempat makan dan minum ibu kalau sudah tua seperti nenek”

Badrul dan Minah sangat heran mendengar jawaban anaknya. Mereka bertanya,

“Mengapa begitu?”

“Bukankah nenek Bukari yang tinggal di gubug belakang rumah, makan dan minum hanya pakai tempurung. Kalau ibu sudah tua akan Bukari buatkan gubug yang jelek, dan tempurung ini untuk tempat makan dan minum ibu” jawab Bukari polos.

Disiang cerah itu Badrul dan Minah seperti disambar petir. Mereka baru menyadari segala tingkah lakunya selama ini, yang menyia-nyiakan orang tua dan mertuanya. Mereka sadar dengan sekejap dan itu karena anak polos yang dilindungi oleh para malaikat. Badrul dan Minah terpaku dengan bayangan masa lalu masing-masing. Badrul yang dulu pernah mematrikan janji ingin mambahagiakan ibunya meng-flash back memorinya; dulu ia bersikeras ingin bekerja semata-mata karena tidak ingin menyusahkan orang tuanya, tapi sekarang?. Demikian pula Minah, in menyadari kesalahan besar yang telah ia lakukan. Ia membayangkan; bagaimana seandainya jika masa tuanya nanti akan seperti Nek Dullah. Dan tanpa terasa air mata membasahi pipi mereka. Mereka hanyut dalam penyesalan yang sangat berarti. Sedangkan Anhar hanya menyaksikan orang tuanya itu  dengan penuh tanda Tanya; megapa mereka menangis?.

Ayo kita harus segera pulang, ada hal yang harus segera kita selesaikan sebelum terlambat atau kita akan menyesal seumur hidup” ujar Badrul

“iya mas, ayo..!!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s