Partai Politik, Dimanakah Dirimu?


Proses demokrasi di Indonesia telah menghasilkan desain pollitik yang kompleks dengan permasalahan yang kompleks pula. Hal ini mengindikasikan bahwa Indonesia sedang dalam proses pendewasaan diri dalam hal sistim pemerintahan demokrasi. Dalam waktu yang relatif singkat karakter sistem politik berubah wujud dari satu titik ekstrim ke titik ekstrim lainnya, yaitu dari titik otoritarian ke titik demokrasi liberal. Sistem multipartai yang diterapkan sejak fase awal reformasi kemudian dilanjutkan oleh sejumlah inovasi prosedural lainnya seperti sistem pemilihan presiden langsung, pemilihan kepala daerah langsung dan dibukanya pintu masuk bagi kandidat non-partai untuk bertarung dalam pilkada.

Namun demikian, seiring dengan perubahan-perubahan ranah politik tersebut, pesimisme publik terhadap prospek demokrasi di negeri ini malahan semakin mencolok. Publik melahirkan suatu sikap sisnisme yang sangat tajam terhadap sepak terjang para aktor politik. Jika pada fase awal reformasi, fenomena politik di tanah air

dicirikan oleh gairah politik publik yang sangat besar terhadap setiap proses politik, seperti pendirian partai dan kampanye pemilu, kini seolah terjadi arus balik dari partisipasi publik. Dari seluruh survey atau jajak pendapat yang dilakukan oleh berbagai lembaga, bisa dipastikan bahwa tak ada satupun hasil survey yang menunjukan persepsi publik yang positif terhadap peran parpol misalnya. Seluruh survey menunjukan bahwa parpol hanya dianggap sebagai kendaraan politik belaka dari para aktor politik untuk menuju panggung kekuasaan, ketimbang sebagai lembaga representasi politik yang demokratis atau untuk menunaikan tugas mulianya memberikan pendidikan politik bagi masyarakat.

Menurut hemat penulis, pesimisme dan sinisme publik terhadap prospek demokrasi terutama pada partai politik yang merupakan fondasi di mana bangunan demokrasi didirikan wajar-wajar saja. Karena dewasa ini partai politik memang hanya menjalankan fungsinya sebagai sarana utama perwakilan politik sementara tugas mulianya sebagai fasilitator pendidikan politik belum sepenuhnya dijalankan. Padahal pendidikan politik sangat penting demi pendewasaan demokrasi yang utuh di masa mendatang. Akibat dari kurangnya parpol memberikan pendidikan politik bagi masyarakat dapat dilihat pada masa pemilu 2009 ini. Hampir seluruh elemen masyarakat acuh tak acuh menanggapi pesta demokrasi tersebut. Jika mereka ditanyai mengenai pemilu, jawabanya akan sama; ā€liat saja bagaimana nantiā€, bukan nanti bagaimana. Rakyat juga acap kali dideretkan dalam antrean panjang pendukung loyal para elite, sekalipun sudah banyak bukti yang menunjukkan betapa rakyat tidak kenal elitenya dengan sempurna. Tentu saja fenomena semacam ini dapat mengganggu proses pendewasaan demokrasi kedepan, bagaimana proses tersebut bisa berjalan jika para aktor pendukungnya tidak ikut berpartisipasi aktif di dalamnya. Karena tangggung jawab pendewasan demokrasi bukan hanya di tangan para elite politik tetapi juga ada ditangan rakyat. Hal ini sesuai dengan hakikat demokrasi itu sendiri; dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Maka rakyat juga punya andil di dalamnya.

Apa yang harus dilakukan?

Sistem politik Indonesia telah menempatkan Partai Politik sebagai pilar utama penyangga demokrasi. Artinya, tak ada demokrasi tanpa Partai Politik. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah banyak terjadi ketidakseimbangan antara eksistensi parpol dan masyarakat. Maka menurut sumber, hal yang perlu dilakukan adalah menumbuhkan partai politik yang sehat dan fungsional. Bukan berarti partai-partai yang ada sekarang tidak sehat dan tidak fungsional, tetapi perlu adanya kolaborasi dan impovisasi dalam tubuh mereka agar fungsinya benar-benar sehat. Dengan kondisi Partai Politik yang sehat dan fungsional, maka memungkinkan untuk melaksanakan rekrutmen pemimpin atau proses pengkaderan, pendidikan politik dan kontrol sosial yang sehat. Dengan Partai Politik pula, konflik dan konsensus dapat tercapai guna mendewasakan masyarakat. Konflik yang tercipta tidak lantas dijadikan alasan untuk memecah belah partai, tapi konflik yang timbul dicarikan konsensus guna menciptakan partai yang sehat dan fungsional. Meski keberadaan Partai Politik saat ini dianggap kurang baik, bukan berarti dalam sistem ketatanegaraan kita menghilangkan peran dan eksistensi Partai Politik. Keadaan Partai Politik seperti sekarang ini hanyalah bagian dari proses demokrasi.

Oleh karena itu, proses pendewasaan demokrasi di bumi pertiwi ini merupakan momentum baik bagi parpol untuk mengubah paradigma masyarakat tentang politik serta menumbuhkan kesadaran masyarakat agar berpartisipasi aktif dalam demokrasi. Yaitu dengan menjalakan tugas mulianya memberikan pendidikan politik bagi masyarakat yang mungkin selama ini tugas mulia tersebut sering terlupakan. Selain itu perlu kiranya menata kembali hubungan kerjasama antara masyarakat, pemerintah, dan partai politik. Agar ketidakseimbangan demokrasi dalam kancah perpolitikan dapat terobati. Dan pada akhirnya wajah baru politik Indonesia yang sarat dengan nilai-nilai demokrasi dapat segera terbentuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s