NEGERI PARA PENCURI


Tulisan kali ini mungkin cenderung pragmatis. Karena penulis ingin mencurahkan pikiran seputar sebuah negeri yang dihuni oleh para pencuri. Pencuri yang dimaksud antara pencuri kelas amatir dan pencuri berdasi alias pencuri professional. Penulis sendiri tidak ingin membedakan antara keduanya, karena perbedaannya tipis sekali. Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Rumah Kaca menyinggung “Betapa bedanya bangsa-bangsa Hindia ini dari bangsa Eropa. Di sana setiap orang yang memberikan sesuatu yang baru pada umat manusia dengan sendirinya mendapatkan tempat yang selayaknya di dunia dan di dalam sejarahnya. Di Hindia, pada bangsa-bangsa Hindia, nampaknya setiap orang takut tak mendapat tempat dan berebutan untuk menguasainya”.  Pernyataan tersebut memang benar. Di negeri ini, negeri yang dalam sajak dan lagu digambarkan kaya raya, permai, dan asri, orang berjasa hanya akan terbuang setelah jasanya dirasa bermanfaat. Mengapa? Terang saja, karena negeri ini adalah negeri para pencuri. Orang-orangnya dengan sigap akan mencuri hal baru tersebut dan mencampakkan pencipta, pemilik atau, penemunya. Begitulah tipikal pencuri.

Di negeri para pencuri ini, semua aspek kehidupannya menjadi objek menarik untuk dicuri. Sebut saja pendidikan. Ada ribuan jumlah siswa yang dicuri haknya untuk mengenyam pendidikan. Mereka tidak sibuk memikirkan bagaimana nasib pendidikan mereka selanjutnya. Bukan karena tidak punya cita-cita. Bukan pula karena divonis orang tua untuk tidak boleh melanjutkan pendidikan. Bagi mereka seolah pendidikan telah pasti ujungnya. Bukan untuk merasakan bangku kuliah. Bukan untuk melalang buana mengarungi samudera melintasi jagad raya untuk mencari jati diri. Bukan pula untuk berleha-leha dengan masa muda mereka.  Hanya satu alasannya. Hak pendidikan mereka telah dicuri. Mereka orang yang cukup hanya bisa menjejakkan mimpinya sampai di atas bukit, tidak untuk menorehnya di langit. Mereka adalah orang yang hanya bisa memandang sebatas tapak melangkah, tidak untuk menebar pandang sejauh mata memandang. Mereka bukan bagian dari insan yang bisa menikmati teduhnya pohon yang rindang, tapi cukup merasakan gersangnya padang ilalang. Mereka paham betul bahwa mereka adalah bagian dari siswa yang mendapatkan cahaya gelap dari negeri ini. Mereka sadar bahwa mereka adalah kurcaci yang hanya mampu menggoreskan tinta pada selembar kertas putih dan terpaksa terlelap kembali karena kondisi, sementara pena yang dihunus belum mau patah. Di negeri inilah tempat mereka berdikari melanjutkan masa depan yang tak jelas arahnya.

Akhirnya, gelandangan, maling, pencopet, dan perempuan murahan, adalah sosok-sosok manusia yang bertebaran jumlahnya di negeri ini, ironisnya mereka pun tak terhitung sebagai anggota masyarakat negeri pencuri ini. Mereka tak kenal hari-hari besar. Bahkan, dijaring razia pembersihan kota ketika hari-hari besar akan tiba. Kehadiran idul fitri, idul adha, natal, dan sebagainya membuat mereka sedikit gembira karena “kecipratan” rezeki. Dalam kepapaan, beban, dan ketidakpedulian, mereka masih dapat mencucurkan air mata keharuan akan masa lalu.

Di negeri ini, banyak orang yang hidup dengan aturan mereka sendiri. Suami-istri tak peduli dengan selembar surat nikah. Bersaudara, bukan karena sedarah. Mau membantu bukan karena majikan dan babu. Tapi, mereka yakin nasibah yang menyatukan mereka. Semua hal layak untuk dicuri. Karena mencuri adalah hobi dan keharusan sepertinya. Odol dan sabun? Rasanya aneh kalau dicuri. Kalau ada yang punya biasanya dijarah yang lain. Lebih baik tak punya, lebih aman, pikir mereka.

Siapa yang harus mengurus dan memikirkan negeri ini??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s