Wawasan Masa Depan Lembaga Pendidikan Islam Masih Lemah


Salah satu faktor dominan kemandekan institusi-institusi Islam, termasuk pendidikan adalah lemahnya wawasan kekinian dan masa depan. Pasalnya, kebanyakan masih terbatas mempertahankan yang baik dari masa silam, tetapi belum terbuka diri untuk mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik.
Hal itu dikemukakan Menteri Agama Dr. Muhammad Maftuh Basyuni pada acara launching kitab-kitab karya ulama Melayu Nusantara versi tahqiq di Jakarta, Kamis (16/1) malam. “Keterkaitan dengan masa lama penting bagi sebuah lembaga pendidikan untuk menemukan identitas dan otentisitas. Sedangkan kemasadepanan bisa dirancang dari masa sekarang dengan bercermin pada masa masa lampau,” katanya.

Menag mengatakan, kelahiran lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia memang berada para ruang-waktu yang bersifat lokal dan distingtif, tetapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa lembaga-lembaga pendidikan tersebut punya historis dengan kemunculan lembaga-lembaga pendidikan Islam di belahan dunia lainnya.

“Disini terjadi apa yang diistilahkan sebagai internasionalisasi Islam Indonesia,” ujar pria yang pernah studi di Timur Tengah ini.

Menurut dia, kontribusi penting dari kontak internasional ini antara lain lahirnya ulama-penulis yang memiliki performance academic internasional dengan menghasilkan karya-karya monumental yang dapat dibaca, dikaji dan dipelajari hingga saat ini. Diantara mereka itu adalah Syekh Arsyad Al Banjari, Abdussamad Al Palimbani, Yasin Al Padangi, Nawawi Al Bantani, Mahfudz At Tirmasi, Ihsan Jampes dan Soleh Darat Al Samarani.

Dr Masyhuri Naim saat menyampaikan narasi kitab-kitab karya ulama Melayu Nusantara versi tahqiq mengatakan, program ini sebagai wujud apresiasi karya-karya ulama yang kita banggakan dipandang sangat strategis. Apalagi, karya-karya mereka walau masih ada dalam bentuk nuskho mahtuhto atau manuskrip namun sudah melanglang buana.

“Program tahqiq sebagai upaya menyelamatkan manuskrip yang terancam punah,” ujar pengajar pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Ia menambahkan, hingga saat ini tim pentahqiq telah menghasilkan ribuan halaman dari beberapa kitab karya ulama. “Pada tahun 2007 sebanyak 4.000 lembar dari 11 judul kitab, dan tahun 2008, sebanyak 3.500 lembar dari 10 judul kitab, antara lain karya Syekh Yasin Al Padangi, Syekh Nawawi Al Bantani dan Syekh Mahfudz At Tirmasi,” jelasnya. (ks/depag.go.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s