ASPEK SOSIO-POLITIS PIALA DUNIA


Saifuddin Bantasyam – Opini
PIALA dunia, yang sedang menjadi perhatian miliaran penduduk di Planet Bumi sesungguhnya bukan hanya soal sebuah bola yang ditendang ke sana ke mari, melainkan juga soal budaya, gaya, harga diri, kegembiraan, tangisan, dan strategi, sekaligus politik di dalamnya. Terpilihnya Afrika Selatan sebagai tuan rumah misalnya, dianggap sebuah kemenangan kultural dan politik, sekaligus simbol penting terkait dengan dominasi Eropa dan Amerika Latin atas sepak bola selama beberapa dekade terakhir. Shakira, penyanyi dari Columbia, Amerika Latin, dengan sangat atraktif menyanyikan “Waka Waka” (This Time for Afrika) saat pembukaan Piala Dunia. “Waka Waka” adalah sebuah klaim yang tentu tak sekedar ditulis seadanya saja, melainkan penuh dengan emosi, kebanggaan, dan kemenangan. Hentakan-hentakan kaki Shakira dan para pengiringnya, lenggak-lenggok mereka, merefleksikan keceriaan, kehangatan, kegairahan, seperti hendak menyesuaikan dengan kondisi geographis benua itu.

Perhatikan pula vuvuzela, terompet plastik, yang demikian menghebohkan. Vuvuzela bukan sekedar sebuah trompet, melainkan suatu kebudayaan. Mereka meniup benda itu sekeras-kerasnya, sebebas-bebasnya. Vuvuzela pada akhirnya adalah juga sebuah simbol kebebasan. Banyak yang kemudian terganggu dengan dengungan vuvuzela; mulai dari pemain dan pelatih, sampai juga para wasit dan pembantu-pembantunya. Semuanya terpaksa sering berkomunikasi dengan bahasa isyarat, mulai dari isyarat bahu, tangan, kepala, telunjuk, kaki sampai dengan keseluruhan anggota badan. Kiper pun kewalahan saat mengatur posisi para pemain belakang yang menghadang tendangan bebas. Beberapa pemain yang terperangkap off-side, tetap menendang bola ke dalam gawang, karena tak mendengar suaru peluit yang ditiupkan wasit. Dalam kondisi normal, pemain akan diberi kartu kuning, tetapi di Afrika Selatan, beberapa kali wasit memutuskan mendiamkan pemain itu. Terdengar suara, agar vuvuzela dilarang saja, namun FIFA menolak tegas usulan itu. Menurut FIFA, vuvuzela atau sebuah tradisi kehidupan Afrika, dan negara itu mengimpornya menjadi kebudayaan dunia.

Aspek Politik
Hampir tak mungkin membicarakan Afrika Selatan tanpa mengaitkan dengan politik apartheid yang disahkan oleh rejim kulit putih melalui UU pada Tahun 1948. Sistem politik itu telah melegalkan pembunuhan oleh kulit putih terhadap orang kulit berwarna, utamanya kulit hitam, termasuk anak-anak dan perempuan, tetapi yang mereka legalkan itu sesungguhnya adalah sebuah kejahatan kemanusiaan yang tiada tara. Ketika Piala Dunia berlangsung, Museum Apartheid di Kota Johannesburg menjadi sebuah jualan tersendiri, dan kebanjiran pengunjung dari berbagai belahan dunia. Sisi politiknya, terpilihnya Afrika Selatan adalah sebuah kemenangan bagi kemanusiaan, bagi keseteraan, yang diagung-agungkan dalam konsep hak asasi manusia. Dan tentu saja, nama Nelson Mandela menjadi tak terpisahkan, dia adalah simbol perlawanan masyarakat modern terhadap sebuah kebiadaban manusia. Tetapi Mandela juga sebuah simbol kenegarawanan, simbol kemanusiaan. Sebelum menjadi presiden, Mandela dipenjarakan sekitar 27 tahun oleh rejim kulit putih. Namun Mandela memutuskan menghilangkan dendam, menjalankan rekonsiliasi, dalam membangun bangsanya. Baginya, “Kebebasan bukan semata-mata melepaskan rantai dari tangan seseorang. Kebebasan adalah hidup dengan cara saling menghormati dan saling membantu kebebasan orang lain.”

Penyelenggaraan Piala Dunia di Afrika Selatan memang tak lepas dari kontroversi di dalam negeri. Banyak kritik yang dilayangkan, dari dalam negeri dan luar negeri, bahwa di tengah kemiskinan yang nyata, angka kejahatan (khususnya pembunuhan) yang sedemikian tinggi, bagaimana mungkin negara itu menghabiskan jutaan dolar AS untuk merenovasi dan membangun stadion-stadion sepak bola. Demikian juga keraguan yang kerap dilontarkan; bisa apa Afrika Selatan? Adakah sumber daya manusia yang memadai untuk mengurus turnamen sepak bola sejagad itu? Buat sementara ini, FIFA memang tak salah pilih. Pembukaan turnamen berjalan megah, aman dan terkendali. Sekian kesebelasan juga sudah melangsungkan pertandingan, riuh rendah dan sarat dengan emosi, sedemikian berwarna. Kelihatannya bangsa itu sungguh-sungguh sedang menikmati sebuah sejarah lain, yang berbeda dengan sejarah apartheid dulu. Keuntungan memang tak selalu dalam bentuk uang, dalam artian bahwa dana yang sudah dikeluarkan untuk stadion belum tentu akan kembali, namun Afrika Selatan memenangi aspek lain; rasa hormat dan kagum masyarakat internasional kepada Afrika Selatan atas keberhasilan menyelenggarakan Kejuaraan Piala Dunia. Mereka tunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah sebuah bangsa yang dapat bersatu, teguh, dan kuat, yang mampu bangkit dengan penindasan sebuah rejim politik paling terkutuk di muka bumi.

Pertandingan
Hasil sejumlah pertandingan memang mencengangkan, tetapi sesungguhnya melalui Piala Dunia, para pemain atau penonton memeroleh pula kesadaran mengenai kemanusiaan masing-masing. Uang yang melimpah, pelatihan yang hebat, pemain yang dengan talenta yang melegenda, ternyata tak ada apa-apanya. Wayney Rooney, Cristian Ronaldo, Kaka, Fernando Torres, Samuel Eto’o, Didier Drogba, bahkan Lione Messi, dan beberapa penyerang dengan nama beken lainnya, sampai saat tulisan ini dibuat, bahkan tak bisa mencetak satu pun gol saat bertanding pada babak awal Piala Dunia berlangsung Sepak bola adalah lapangan di mana arogansi akan menuai akibat-akibat tak terduga. Inggris yang begitu merasa diri unggul, ternyata ditahan imbang oleh AS, negeri yang dianggap baru kemarin sore belajar bola. Spanyol, juara Piala Eropa 2008, harus bertekut lutut dari para pemain Swiss. Bahkan Afrika Selatan sendiri tak bisa menjadikan “tuan rumah” sebagai faktor penting; mereka ditaklukkan tanpa balas 3-0 oleh Uruguay, di depan mata pendukungnya sendiri dengan vuvuzela yang berdengung keras selama pertandingan. Brazil bahkan hanya bisa memasukkan dua gol saja ke gawang Korea Utara, negeri yang penuh rahasia, yang dalam analisa para pakar, akan menjadi lumbung gol Kaka dan kawan-kawan. Nyatanya Brazil hanya menyarangkan dua gol, dan kemasukan satu gol.

Jadi, jika mau belajar, maka Piala Dunia di Afrika Selatan adalah sebuah “sekolah” yang baik, tak terkecuali bagi FIFA. Lihatlah misalnya keputusan FIFA yang membiarkan Australia, yang sebelumnya tergabung dalam wilayah Oceania, tetapi kemudian bertanding di wilayah Asia untuk menuju Piala Dunia dengan tujuan memajukan sepak bola Asia. Negara Kanguru itu telah mencuri satu jatah negara Asia, tetapi kemudian membuat malu Asia, ketika dihantam Jerman 4-0 tanpa balas. Tetapi sebaliknya, Asia sendiri berhasil membelalakkan mata dunia. Jepang menaklukkan Yunani, dan Korea Selatan menamatkan perlawanan Kamerun (meskipun kemudian Korea Selatan dibantai 4-1 oleh pasukan Maradona), dan Korea Utara hampir saja membuat malu Brazil. Itulah sepak bola, yang sekarang menyita waktu sebagian besar penduduk dunia, yang juga akan terus menerus menghadirkan drama. Enjoy watching!

* Saifuddin Bantasyam Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s