My Life is My Confession


Gambar

Hari yang cerah. Secerah kehidupanku yang baru dengan masa depan yang baru pula. Tampak matahari dari teralis malu-malu muncul menunjukan sinarnya yang anggun. Seakan ia menyapa alam sembari bertasbih pada penciptanya. Awan pun berarak-arakan berhembus ke barat mengikuti rayuan angin pagi yang semilir. Umat manusia menyibukkan diri dengan aktivitas mereka masing-masing.

Begitu pula aku. Aku mengawali hariku sebagai mahasiswa baru di kota Malang. Setelah beberapa hari melewati orientasi pendidikan kampus, maka sekarang dengan bangga aku berhak mengecap diriku sebagai mahasiswa. Bangga bukan buatan, tapi dikampus ku ini masih ada satu tahapan lagi yang harus aku lewati agar aku benar-benar menjadi mahasiswa dan bisa dengan leluasa memproklamirkannya kepada dunia bahwa aku mahasiswa di manapun dan kapanpun. Pasalnya kalau belum melewati kegiatan ini maka aku pun belum bisa disebut sebagai mahasiswa. ini lah tradisi di kampusku, semua mahasiswa baru harus mengikuti Halaqoh Diniyah.

Bukan main pentingnya Halaqoh Diniyah. Bagi kami kaum awam yang baru menginjak Dhuha kehidupan kampus. Wajib bagi kami berpartisipasi dalam kegiatan ini untuk penyesuaian dan pendalaman ilmu agama sekaligus sebagai momen  ta`aruf bagi mahasiswa baru seperti kami. Agar bisa saling kenal dan terkenal gitu hehehe Itulah yang menjadi nilai plus pertama kampusku.

Bangga bisa menjadi mahasiswa adalah impian yang belum pernah aku impikan sebelumnya. Tidak terlintas dibenakku bahwa aku bisa menjadi mahasiswa seperti sekarang. Pergi menuntut ilmu dengan pakaian yang tidak ditentukan, bebas menentukan pilihan, sebebas merpati yang terlepas dari sarangnya, terbang kesana kemari mencari  jati diri mencari dan terus mencari apa yang hendak dicari tak ada yang melarang tak ada yang menghukum. Beronani wacana tanpa batasan waktu. Berpenampilan sesuai selera, ya tidak ubahnya seperti cerita-cerita tentang mahasiswa yang pernah aku dengar dulu; mahasiswa adalah segalanya. Ada juga yang menyebutnya dalam bahasa keren; mahasiswa adalah agent of change. Sungguh predikat yang tiada tara bandingannya disematkan pada insan intelektual di jagad raya ini.

Pasalnya, sejak aku lulus dari SMA di kampung asalku. Aku telah mengambil jalan yang berbeda dengan teman-temanku yang lain. Mereka semua telah berancang-ancang akan mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan seleksi masuk perguruan tinggi. Ada yang berniat terbang ke Medan karena katanya persiapan di sana akan lebih menjanjikan. Ada pula yang hanya bertolak ke Banda Aceh alasannya ada banyak teman yang akan membantu sewaktu ujian nanti. Bahkan ada yang memilih Bandung sebagai tempat berlabuh sementara karena pendidikannya lebih maju katanya. Berbagai daerah mereka pilih sebagai tempat mempersiapkan diri menghadapi test masuk perguruan tinggi.

Sedangkan aku, aku berbeda dengan mereka. Aku tidak sibuk memikirkan bagaimana nasib pendidikanku selanjutnya. Bukan karena tidak punya cita-cita. Bukan pula karena divonis orang tua untuk tidak boleh melanjutkan pendidikanku di bangku perkuliahan. Bagiku seolah pendidikanku telah pasti ujungnya. Bukan untuk merasakan bangku kuliah. Bukan untuk merasakan belajar tanpa seragam resmi, bukan untuk menikmati penampilan sesuai selera, bukan untuk melalang buana mengarungi samudera melintasi jagad raya untuk mencari jati diri. Bukan pula untuk berleha-leha dengan masa mudaku.  Hanya satu alasannya. Keadaan ekonomi keluarga.

Aku orang yang cukup hanya bisa menjejakkan mimpiku sampai di atas bukit, tidak untuk menorehnya di langit. Aku adalah orang yang hanya bisa memandang sebatas tapak melangkah, tidak untuk menebar pandang sejauh mata memandang. Aku bukan bagian dari insan yang bisa menikmati teduhnya pohon yang rindang, tapi cukup merasakan gersangnya padang ilalang. Aku paham betul bahwa aku adalah bagian dari siswa yang mendapatkan cahaya gelap dari negeri ini. Aku sadar bahwa aku adalah kurcaci yang hanya mampu menggoreskan tinta pada selembar kertas putih dan terpaksa terlelap kembali karena kondisi, sementara pena yang kuhunus belum mau patah. Dikampungku inilah tempatku berdikari melanjutkan masa depanku yang tak jelas arahnya, hanya ijazah SMA-ku lah modal berharga untuk kujajakkan demi mendapatkan pencerahan di masa depan.

Di Meulaboh, kota yang terhempas peradaban inilah kehidupanku terlihat pasti. Pasti dalam ketidak pastian. Pasti untuk tidak melanjutkan pendidikan. Tragis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s