Khawatir


Mungkin karena IQ, motivasi, dan percaya diri mereka lebih rendah dibanding yg lainnya. Atau mereka mengalami brain damage atau penyakit mental lain yang menyebabkan gejala mencontek setiap kali ikut ujian semakin akut. Bahkan dengan soal yang mudah sekalipun mereka tetap sibuk tolah-toleh. Sudah ke 4 kalinya saya menjaga ujian di jurusan ini. Dan hebatnya, perilaku mereka sama walau orangnya beda. Ya ku anggap wajar saja, toh mereka satu spesies dari genus fakultas yg sama pula.


(Cruel)

Apa yg mereka pikirkan?. Apa yg sebenarnya mereka pelajari dalam kelas selama satu semester kemarin? Mengapa hanya soal kacangan begini tidak mampu mereka jawab atau bergegas keluar ruangan sebelum batas waktu ujian selesai? Ada apa?

Soal tentang kata dari dua bahasa yg berbeda namun mempunyai fonik yang sama dan berterima, soal mengenai perencanaan pembelajaran, soal seputar retorika berbahasa. Mengapa tidak langsung kau goreskan pena itu dan segera melangkah keluar ruangan?. Kenapa malah sibuk melototi langit-langit, tolah-toleh, dan berceloteh. Tidak habis pikir. Parah.

Kalau begini calon guru masa depan, bagaimana dengan murid-muridnya kelak?.

Ya kan pak Dekan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s