Wedding Ovation Part 1


30 Juni 2012 menjadi hari penting nan bersejarah bagi dua sahabatku Ibnu Rajab Akbar dan Ivanatul Marwah. Setelah lama menjalin cerita cinta akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan kisah itu ke jenjang yang lebih serius: pernikahan. Ibarat sinetron, kisah cinta mereka sampai pada tahap ini masih seperempat jalan dari cerita keseluruhan. Tentu banyak lika-liku behind the scene perjalanan romansa mereka, tapi kali ini saya sedang tidak membahas apa yang terjadi di balik layar mereka, tapi akan bersinopsis bagaimana perjalanan saya menuju singgasana bahagia mereka di desa Klepu, Sumbermanjing, Kabupaten Malang. Semata-mata ingin mengungkapkan rasa turut berbahagia pada hari dan tanggal tersebut di atas.

Pukul 13.00, saya dan teman-teman sudah bersiap-siap menempuh perjalanan kami ke tempat tujuan. Rencana awal ingin sewa mobil biar gak panas-panasan plus bergumul dengan debu, tapi sayang semua travel yang ada di Malang lagi out of order alias gak ada mobil stanby untuk disewakan. Alih-alih terpaksa kami berangkat dengan si roda dua. Ada sepuluh sepeda motor yang masig-masing dengan dua penumpang satu sebagai abang ojek dan satu penikmat kursi hangat, kecuali Mas Muzaini, dia sendirian karena gak ada teman lain yang mau ikut berpartisipasi. Yang lain pada nitip, nitip, dan nitip. Mungkin karena mereka sudah tau kalau jalan menuju kediaman bahagia Mbak Iva jauh dan penuh tantangan (lebay).

Perjalananpun dimulai dengan selembar kertas undangan yang diberi gambar peta. Mirip dengan acara televisi anak, biar tidak tersesat maka kita butuh peta.. “Dora”. Peta nya sedikit membingungkan karena tidak memberi informasi yang cukup agar yang melihat gampang menuju lokasi. Maklum yang buat peta ini sarjana pendidikan, bukan sarjana geografi, plannologi, sipil, atau geologist. Sarjana pendidikan ya ahlinya kalau disuruh membuat peta pembelajaran di kelas, mulai dari silabus, RPP: SK, KD, indikator sampai eveluasi pasti akan sangat terarah, jadi yang liat gak akan tersesat atau menyesatkan seperti yang sekarang kami alami.


(Peta Geje)

Sebenarnya kami tidak benar-benar tersesat. Berhubung IQ kami di ambang rata-rata, ya gak mungkin sampai tersesat. . Dari Kota Malang ke perbatasan Kabupaten Malang membutuhkan waktu kira-kira satu jam. Kondisi jalan tidak begitu macet jadi enjoy aja narik gas ke angka 60 – 80 – 100 km/jam. Dan sayangnya perjalanan mulus ini berakhir begitu kami masuk wilayah Sumbermanjing. Ada arah panah di pertigaan yang menunjukkan arah “Klepu”, dan itu destinasi kami.

Hanya 1 kilometer dari pertigaan tadi yang diaspal mulus. Selebihnya,,masyaallah… kami harus menghadapi kenyataan pahit. Tapi dengan niat membahagian sahabat, perjalananpun kami lanjutkan. Jalan ini, salah satu jalan yang ada di Malang dengan kondisi yang memprihatinkan. Pembiaran akses masyarakat desa di Malang yang terisolasi memang dilanggengkan. Padahal mereka juga ikut bayar pajak loh. Bahkan bisa jadi, pajak yang mereka bayar juga sama besar jumlahnya dari pajak masyarakat kota. Tapi sayang, mereka hanya dapat menuntaskan kewajiban saja, sementara hak-hak sipil mereka ditunda dulu, sampai yang berwenang terbuka mata, hati dan pikirannya untuk memperhatikan hidup mereka di pinggiran sana.

Kembali ke laptop, jalan ini memang jelek, buruk rupa, bahkan terkutuk. Semua orang yang melintas pasti mengutuk jalan ini, termasuk aparat pemerintahannya. Masih lumayan dan bersyukur kalo gak ada mobil atau truck yang lewat, kalao ada, maka kondisi pun tambah parah. Syukurnya lagi cuaca cerah jadi gak becek berlumpur tuh jalan. Permukaan jalan yang bergelombang membuat skok motor genjat-genjot gak berhenti. Perut dan seisinya juga ikut berdendang. Sesekali, terjebak batuan besar dan sesekali terperangkap di lubang yang dalam. Kondiri ini bukan 1 atau 2 kilometer saja, tapi 7-8 kilometer. Tobat deh pokoknya.

Agar rileks bisa sambil nyanyi soundtrack ninja hatori tuh. “mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman berpetualang”. Luar biasa ne perjalanan. Kadang muncul juga pertanyaan-pertanyaan nakal. Kok bisa sahabat saya Ibnu menemukan tulang rusuknya di belantara Klepu ini?. Bahkan pernyataan yang lebih nakal lagi: Mbak Iva memang The True “Bunga Desa”. . Ada juga celotehan aneh :Mas Ibnu harus segera jadi pakcamat,paklurah, atau bupati Malang, biar ne jalan segera berubah bentuk. Si roda dua terus melaju dan tubuh terus bergunjang mengikuti irama jalan dan alam yang tidak harmonis. Sesekali berhenti di perempatan atau pertigaan untuk bertanya arah mana yang harus kami tuju, karena memang tidak cukup mengandalkan peta tadi. Tau sendiri kan?.

2 jam berlalu, dan teng..teng..teng… kebahagiaan pun meledak. We did it.!.sampailah kami di kediaman Mbak Iva. Tempat dimana bunga-bunga dan senyum manis bertaburan. Gak ada raut muka sedih, galau, murung, yang ada hanya tawa, canda, dan cerita, itu lah bahagia. Pas kami tiba, si pengantin tidak sedang di altar pelaminan, jadi awalnya kami juga was-was dan ragu, bener gak rumahnya. Wal hasil dreams come true; sang raja dan ratu (sehari) muncul. Senyum pun merekah. . Cinta memang magis. Dan si empunya cinta pasti punya mantra khusus untuk merawat rasa ini. Sekali mantra dibacakan, dewi-dewi cinta pun beraksi memanahkan panah cintanya ke sasaran. Kadang tepat dan kadang meleset. Sahabatku Ibnu Rajab ini mengarahkan busur cintanya tepat sasaran. Terlepas dari plot cerita cinta yang complicated. Untuk hari ini, love wins, love always wins..!

Setelah bersantai, makan-makan, dan photo-photo, kami pun pamit ke mempelai berdua. Kami ingin melanjutkan perjalanan ke Barat (kaya sungokong). Kembali menikmati pahitnya jalanan panjang hingga mencapai ujungnya: Dinoyo City. Namun cerita belum berakhir. Berlanjut ke legitimasi cinta part II.


(Bahagia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s