Tingkat kesetiaan terjemahan: Terjemahan “bebas”, “free translation”, dan “saduran”


Ketika membicarakan masalah hasil terjemahan, biasanya kita mempertimbangkan antara “bentuk” (form), dan “makna” (meaning). Kemudian orang membincangkan antara hasil terjemahan dalam hal tingkat “kesetiaan pada bentuk” dan “kesetiaan pada makna”. Rekan-rekan penerjemah tentu sudah paham benar apa yang dimaksud dengan dua macam kesetiaan (faithfulness) itu. Kemudian ada golongan penerjemah yang berkecenderungan mempertahankan yang nomor 1 dan ada yang nomor 2, dan tentu saja banyak yang berupaya mempertahankan dua-duanya.

Secara teori ada tingkat kesetiaan paling rendah dan paling tinggi, atau paling setia dan paling tidak setia alias paling bebas. Di antara dua titik ekstrem itu ada rentang yang cukup lebar yang sering menimbulkan polemik, bahkan pertentangan, karena biasanya para penerjemah terpancang hanya pada dua istilah, yaitu terjemahan letterljik (literal) dan terjemahan bebas. Mereka tidak terlalu tertarik adanya bentangan rentang di antaranya.

Dalam pengalaman saya mendamping para penerjemah, tidak jarang saya menjumpai penerjemah yang mengklaim hasil terjemahannya sebagai “terjemahan bebas” ketika karyanya dikomentari oleh orang/rekan lain, “Ini terjemahan bebas saya. Saya tidak suka terjemahan yang leterlek (maksudnya letterlijk)”. Patut disayangkan, ada juga penerjemah yang karena tidak dapat memahami makna kalimat aslinya, kemudian dia terjemahkannya sesuai dengan tafsirannya sendiri dan mengklaim serta berdalih itu sebagai “terjemahan bebas”.

Dalam konteks lain, ada penerjemah senior yang menasihati juniornya, “Kalau menjumpai kalimat yang sulit dibuat terjemahannya, terjemahkan saja secara letterlijk!”. Ada juga penerjemah yang menyatakan, “Untuk produk hukum, saya selalu terjemahkan secara letterlijk,supaya maknanya tidak berubah”. Sebaliknya, tidak sedikit orang mengingatkan kita, “Jangan diterjemahkan secara letterlijk dong, dan jangan takut menerjemahkan secara bebas!”.

Nah, dengan melihat dua istilah, “letterlijk” dan “terjemahan bebas”, dalam paragraf di atas, kita melihat betapa pemaknaan dan persepsi orang bisa saling berbeda. Perbedaan semacam itu, besar atau kecil, bisa menimbulkan masalah. Oleh karena itu, “demi kesatuan bahasa” para penerjemah, kini ada upaya untuk membakukan istilah-istilah tersebut sebagai berikut

(1) Terjemahan “harfiah”, untuk letterljik, literal, word-for-word

(2) Terjemahan “katawi”, untuk phrasal translation

(3) Terjemahan “wajar”, untuk idiomatic translation

(4) Terjemahan “bebas”, untuk free translation

(5) (Terjemahan) “saduran”, untuk adaptation

(6) (Terjemahan) “saduran bebas”, untuk free adaptation

Keterangan:

Untuk memperjelas penerapan istilah-istilah tersebut, diberikan contoh kalimat sebagai model:

The old lady came again last week

(1) Itu tua wanita datang lagi lalu minggu => T. harfiah

(2) Wanita tua itu datang lagi minggu lalu => T. katawi

(3) Wanita tua itu datang lagi minggu yang lalu => T. wajar

(4a) Wanita tua yang baik hati tersebut datang lagi minggu yang lalu => T. bebas 1

(4b) Wanita tua bawel itu nongol lagi minggu yang lalu => T. bebas 2

Catatan: Dalam terjemahan bebas, penerjemah berupaya menyesuaikan dengan lingkungan dan konteks tulisan aslinya; dalam upaya tersebut dia merasa perlu, oleh karena itu “bebas”, menambah periannya, bahkan juga persepsinya.

(4a) = Penerjemah menambahi “yang baik hati” supaya sesuai dengan nuansa aslinya. Dalam naskah aslinya memang terungkap bahwa dia baik hati.

(4b) = Kata “bawel” dan “nongol” supaya sesuai dengan konteks aslinya, atau sesuai dengan persepsinya sendiri. Tambahan “yang baik hati”, “bawel”, dan “nongol” digunakan oleh si penerjemah karena dalam tulisan bahasa aslinya tidak terdapat kata/istilah konkret yang dapat diterjemahkan langsung, melainkan hanya terdapat kata/ungkapan ber-konotasi saja yang konotasinya tidak lazim digunakan dalam bahasa Indonesia (atau sebab lain semacam itu). Itulah sebabnya digunakan kata “bawel” dan “nongol”, yang diyakini gampang dipahami oleh pembaca Indonesia tanpa melalui kata berkonotasi (Tidak harus melakukan “reading between the lines”).

Tentang Saduran

Saduran ada dua macam: (1) saduran bukan penerjemahan, misalnya novel dipentaskan sebagai pertunjukan panggung, dan (2) saduran penerjemahan, misalnya naskah pentas asli “The Proposal” oleh Shakespeare, dipentaskan di Jogja dalam bahasa Jawa oleh teater lokal dengan judul “Lamaran”.

Di sini kita hanya membahas yang nomor dua (saduran penerjemahan). Syarat saduran yang utama ialah bahwa karya saduran harus mempertahankan (tidak merusak) garis besar materi naskah asli, atau garis besar alur cerita. Dalam pentas dengan bahasa Jawa tersebut bisa saja diadakan adaptasi latar belakang yang cukup radikal, namun demikian karya pentas ini tetap dapat dinamakan karya “saduran” selama garis besar alur cerita naskah asli dipertahankan. Misalnya para pelakonnya memakai nama-nama orang Jawa, pakai baju surjan, pakai blangkon, kambing sebagai binatang kesayangan yang dipelihara (bukan anjing seperti pada naskah aslinya).

Dalam saduran bebas, garis besar atau alur cerita dibuat “mirip”, bukan dipertahankan “sama” dengan naskah aslinya. Dikatakan “bebas” karena penerjemah sengaja memasukkan bukan saja penyesuaian (adaptasi), melainkan bisa juga opini, misi, sindiran, pelesetan, lawakan, pesan pribadi dan sebagainya.

Tentang istilah “bebas”

Ada kecenderungan sementara penerjemah menyukai penggunaan istilah “bebas” untuk karya terjemahannya. Dalih atau alasannya, misalnya supaya kalimat-kalimatnya tidak kaku, atau karena tidak ada padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia , atau karena terjemahan “wajar” tidak mungkin diwujudkan tanpa sedikit “kebebasan”. Oleh karena itu ada juga yang menamakan karya terjemahannya sebagai terjemahan “wajar bebas”, atau “free idiomatic translation”.

Pembakuan istilah memang tidak mengikat kepada siapapun, dan tidak merupakan keharusan untuk ditaati. Namun demikian, dengan adanya upaya pembakuan diharapkan para penerjemah dapat menggunakannya sebagai alat yang dapat membantu mengadakan evaluasi diri atas karyanya. Misalnya apakah karyanya terlalu bebas, atau terlalu harfiah, terlalu kaku, kurang idiomatis, dan sebagainya.

Oleh Setyadi Setyapranata

15 thoughts on “Tingkat kesetiaan terjemahan: Terjemahan “bebas”, “free translation”, dan “saduran”

  1. I have read that article but unfortunately I still don’t understand what “sanduran” means, Sir….😀

  2. i can say “gorgeous” for the new word i have got after read this article, beyond my my narrow imagination of translation…
    actually, as a very beginner student of translation, I’m not really understand what the article talking about,
    see?? i have read this article twice because i have passion to know more about translation, but honestly i still can’t understand some sentences.
    with pleasure to see you soon in our class to discuss more about this article…
    one more thing, thanks for sharing this awesome article
    like this🙂

  3. it’s really amazing explanation because it does not use difficult word, so it can make easier for the reader to understand about the lesson. when we talk about the material in my opinion terjemah katawi better than others because it’s true using the real meaning of the sentence without any additional, and nice meaning
    i’m waiting for our face to face meeting in the class, thanks

  4. in my opinion in translation that most important is someone know and understand about task or sentences that will be translated, because if he/she doesn’t understand about task he/she will be difficult and confuse. if I choose between sanduran and bebas, I choose both of them, because they are same important depend on we use, i have read it more than three times, but i still can’t understand specially about sanduran. I usually translate to use free translation, because it easier and can more creative. with pleasure see you in our class to discuss more about this article, thank you…………….

  5. well. overall good.. important information for us who as the beginner of translation class and will be the next translator. actually, i haven’t heard harfiah, wajar, katawi, bebas, yet. i usually translete L2 (second languge) into L1 (first language) in my way, i don’t know the way i do is wrong or right. this article really help me to understand what the translation is and to know more about the kinds of translation..
    and i just known about “saduran” even a litle bit.. so, hopefully next meeting will be explained more about that. thanks

    sure name : Nur islami
    NPM : 2100730082
    email : nuri.shaggy@yahoo.com

  6. I have read that article. but actually, i still can’t not understand some sentence.
    with pleasure to see you soon in our class to discuss more about this article sir.
    thanks for the sharing.

  7. I have read the article more than once, and I’ve got a little bit understanding about the way of some translators translate their translation product. It somewhat helps me to have little description of translation process. Hopefully, it will be clearer when we discuss it in our next meeting. thanks for useful information and see you……

  8. I have read the article more than once, and I’ve got a little bit understanding about the way of some translators translate their translation product. It somewhat helps me to have little description of translation process. Hopefully, it will be clearer when we discuss it in our next meeting. thanks for useful information and see you…… (Zar’al Muzaki / 2100730070)

  9. Thank you before because after I read your article, I can know new information now. Now, I get important something that we are as translator must know how we make differences when we translate a text so every one will not misunderstand the meaning. Making differences in this case is we must know context of text. For example, when text is showed to general, we can use free translation. When text is showed to specific group, we must use letterlijk translation. After that, we must use appropriate word because if do not do it, it will decrease or change the meaning.
    SITI NURUL AZIZAH 2100730059 V A

  10. First of all, after reading this article, what coming in my mind is that “oh my God, I know nothing about translation”
    but after all, I know I’ll meet the master in my translation class…🙂
    so, for the sure of God… I’ll be ready to know more about Translation and hope that we can share and discuss the article in detail…
    We really hope to see you soon Sir…🙂

  11. it’s wonderful article, because new knowledge and information for me..but now I still the beginner student in translation class so that I have trouble to understand what article talking about…
    I just get the new word from this article although still confused the meaning. I hope that you can explain again the variant way to translate something as like in this article such as harfiah, katawi and free translate. Thanks for useful information sir..
    (anissatus shofiyah – V A)

  12. really interesting discussion. we can translate a work in a variety of ways, especially with the way ‘translation adaptation’ and ‘free translation’. however, there are many difficulties in understanding when we just read in the absence of a more complete explanation face to face. I am waiting for a full description in the class sir.🙂

  13. Good article!!!
    After the I read a this article, I could understand a little bit about translation and this is important information for university students especially among students who wanted to learn about the new translators!! Tanks for the information sir…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s