ROSARIO ILUSI


Hal yang paling lucu bagiku adalah ketika aku berjalan, berjalan dan berjalan tak tentu arah, akhirnya aku kembali ke depan pintu ini. Tidak ada pilihan lain, kecuali aku mau menginap di depan ruko perempatan jalan, bersama gelandangan-gelandangan tak berumah. Aku sebenarnya punya firasat buruk kalau saja si kenangan, tamu tak diundang masih membuntutiku dari belakang. Dia punya seribu satu cara untuk menaklukkanku malam ini. Seperti malam-malam panjang sebelumnya, ia memaksaku untuk tidur dengannya. Ia membuat malam-malamku nyaris selalu berakhir dengan kecemasan, kesedihan dan keputusasaan.

Flat mungilku di tingkat dua terasa lebih dingin dari biasanya. Pintu sudah kukunci rapat-rapat, tenang saja. Satu-satunya alasan yang membuatku was-was adalah si kenangan telah lebih dulu masuk flat ini jauh sebelum aku masuk. Dia bisa mengacaukan setiap jengkal malam ini hanya dengan sekali tebas. Aku tak ingin itu terjadi dan mudah-mudahan kekhawatiranku tidak terbukti.

Hujan tadi membuat malam ini lebih singkat dari biasanya, jalan-jalan menjadi lebih sepi, lampu-lampu jalan lebih temaram. Dingin yang terlalu membuat orang lebih sibuk bermain-main dengan tubuh di dalam bilik. Mencari kehangatan, saling menikmati, saling dinikmati. Saling berbagi kehangatan dalam desah, hingga dingin tak mampu mengusik hasrat yang membuncah. Aku juga butuh hal itu. Manusia jenis apa yang tidak, ngomong-ngomong? Laron saja sibuk bercinta di bawah lampu taman saat ini, aku tak ingin jadi penonton saja. Aku sudah dapatkan kehangatan yang cukup dari pesta tadi. Tapi sekarang pesta berakhir. Semua kembali menjadi realita yang kejam. Harapan-harapan yang terlintas kini kembali ke rumah masing-masing, bahagiapun sudah jadi asap yang mengepul dari sigaret, tidak ada yang tersisa, benar-benar tidak ada. Aku harus siapkan senjata, bergerilya lagi melawan sepi.

Tak ada yang bisa aku ceritakan selain empat dinding flat yang mengunciku rapat dalam cermin yang memantulkan bayanganku samar. Aku sempat percaya kalau bayangan adalah makhluk ajaib paling setia yang diciptakan tuhan untuk membuat manusia tidak merasa sendiri, dia selalu mengikuti kemanapun aku pergi tanpa ada sedikitpun niat berkhianat. Tapi sekali lagi aku harus menelan kekecewaan dan hal ini membuatku yakin kalau ternyata setia benar-benar hanyalah sebuah wacana klasik dalam dongeng-dongeng sebelum tidur. Begitu lampu temaram ini kumatikan, dia meninggalkanku sendiri tanpa rasa bersalah. Aku tau, tak seharusnya aku berpikir tentang hal itu. Aku berpikir terlalu banyak sehingga kadang aku merasa lebih tua beberapa tahun dari umurku yang sebenarnya. Aku bahkan tak punya waktu senggang yang cukup untuk sekedar menciptakan garis melengkung di wajahku. Mengapa aku lakukan ini terhadap diriku sendiri?

Aku terlalu lama membiarkan diriku tersesat dalam dunia mimpi dan sampai sekarang belum mampu menemukan cara untuk kembali. Mungkin aku terlalu giat bereksperimen, menciptakan skenario-skenario roman mahadahsyat dengan latar perfeksi tanpa cela, ekspektasi berlimpah-limpah, dan obsesi yang akhirnya kusadari mentok hanya pada ilusi tiada tepi. Aku menyalahkan disney untuk hal ini karena telah membuat otak kecilku selalu percaya bahwa setiap kisah selalu berakhir dengan kembang api, padahal realita tak selalu berjalan demikian. Bahagia hanyalah bagian dari fantasi, tak semudah membalikkan telapak tangan mentransformasikannya ke dunia fana.

Jika boleh memilih, aku lebih ingin berkemampuan super tak bisa bermimpi, agar tak perlu tersesat dalam pigmen-pigmen imaji yang tirani, yang berkoloni perlahan mengkonsumsi hati. Agar aku tak harus menganggap kehadiran kenangan sebagai ancaman pengaduk kedamaian, agar aku tak perlu bertempur, memusuhi diri sendiri segini hebatnya untuk mencari jalan keluar dari sini. Sesuatu yang tak bisa kumiliki seharusnya tak bisa kumimpikan, tapi kenyataan selalu sebaliknya, semakin aku mencoba mencari jalan keluar, semakin terbenamlah aku dalam kubangan obsesif destruktif yang luar biasa, semakin berharap skenarioku hadir dalam bentuk utuh membentuk kisah negeri dongeng yang terdampar di dunia fana. Aku ingin berhenti bermimpi karena aku tau, terlalu banyak bermimpi tak baik untukku. Aku tak seharusnya bermimpi. Aku seharusnya berhenti bermimpi.

Aku selalu berharap menemukan jalan keluar dari belenggu perfeksi mimpi yang tiada habisnya ini. Akan ada masa dimana hati kembali berfungsi, berestorasi membentuk kembali diri menjadikan dunia tak lagi begitu besar untuk otak kecilku. Tapi malam sudah terlalu larut untuk memikirkan kepincangan realita semacam ini, domba-domba sudah siap masuk kandang. Saatnya menarik selimut lebih dalam dan membiarkan senyap mengisi penuh flat ini, seperti biasa. Lampu dimatikan dan biarkan bayangan membebaskan diri. Jangan harap kenangan bisa melepaskanku tanpa syarat, dia masih mengintip di luar jendela, menunggu waktu yang tepat untuk memangsa. Peduli gila, dalam pejamnya mata aku melihat domba-domba mulai mengeluh karena terpaksa bekerja lebih keras dari biasanya. Tolonglah dombaku sayang, melompatlah, bawa aku dimana seharusnya aku berada. Sebelum kenangan dan mimpi-mimpinya menjadi omnivora pemakan segala.

Handry Febrian Z Dalimo

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s