Aku Tak Membela Angin


Seiring berjalannya waktu, usiaku berkurang, pengalamanku bertambah, dan suka-duka pun kurasa. Kuteringat masa-masa penuh semangat bertiup tanpa arah bersama angin lalu. Aku tak merasakan apa pun kecuali sesal karena anginku telah memorak-morandakan bangunan kasih sejati titipan Sang Ilahi Robbi.

Kuteringat saat api selalu membakar kayu-kayu hatiku, sehingga aku tak punya lagi kayu untuk menerangi dapur hatiku. Hanya asap dan sisa-sisa kayu yang tak ada gunanya. Semuanya tampak hitam menutupi seluruh dapurku. Saat Sang Pemilik kayu datang, aku sampai tak sanggup menyambutnya karena aku takut Ia akan menanyakan kayu yang telah Ia titipkan kepadaku.

Ah, kalau diingat-ingat, angin itu selalu membuatku senang karena bisa membuat apiku menyala semakin berkobar, tapi hanya sesaat dan sesat yang kurasa semakin hebat. Saat angin itu kembali, aku pun bimbang. Apa hendak kukata kepadanya karena apiku sudah tak merah lagi. Apiku sudah tak bisa bersama angin itu lagi karena sang angin hanya suka dengan api merahku.

Angin, maafkan aku yang semakin jauh darimu karena api merahku tak lagi mampu menemani petualangmu. Jika suatu saat nanti engkau lewat di depan dapurku, sapalah aku meski aku sudah tak seperti dulu…..

Ahnanalex

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s