Jalan Panjang Antara Aceh dan Columbus


Alhamdulilah setelah lebih kurang satu tahun lupa password blog ini, akhirnya bisa kembali aktif. Inilah bukti bahwa manusia ya tetap manusia, banyak lupanya. Betapa banyak yang harusnya bisa ditulis dalam satu tahun. Tapi yang penting sekarang blog ini kembali normal, kembali ke empunya. Semoga bisa segera menulis ya dan semoga gak lupa password lagi.

Sudah setahun saya di Amerika sejak password blog ini hilang entah kemana. Senin, 19 September 2016, pukul 11 malam waktu Amerika bagian timur, saya iseng kembali mencoba login. Voila! login pun berhasil. Jadilah saya bersih-bersih bagian dalam dan bagian depan “rumah” ini yang saya bangun (mungkin) enam tahun lalu. Tuh kan, sampai lupa kapan pertama kali ngblogšŸ˜‰. Tiga jam ngutak-ngatik pengaturan, tampilan, dan membuang segala macam tempelan usang.

Setelah selesai bersih-bersih, saya coba mengejar ketertinggalan cerita dalam satu tulisan ini ya. Jadi saya akhirnya mendapatkan beasiswa LPDP tahun 2014 dengan intake ke Ohio State University (OSU), Fall 2015. Sebelumnya, tahun 2013 saya telah menyelesaikan master saya Ā di Universitas Islam Malang dan segera kembali ke Aceh untukĀ mengajar di Universitas Teuku Umar. Perburuan beasiswa S3 sudah saya mulai sejak masih S2. Persiapan TOEFL, ikut Talent Scouting dari Dikti dan lain-lain. Usaha maksimal agar bisa mendapatkan beasiswa. Tahun 2013 itu pula saya mendapat bantuan beasiswa dari IIEF Jakarta untuk mendaftar ke universitas di Amerika. Mereka membantu segala biaya dan pendampingan selama proses pendaftaran, termasuk untuk tes GRE dan TOEFL IBT. Ini kesempatan langka karena diantara ribuan pelamar hanya puluhan saja yang diterima. Jadi saya termasuk beruntung. Padahal sewaktu mendaftar sudah di ambang batas waktu yang ditetapkan. Tapi yang namanya takdir, ya sudah digariskan.

Selama mengikuti proses tersebut, saya akhirnya memilih Ohio State University sebagai pilihan kampus tujuan. Dua kampus pilihan saya lainnya Michigan State University dan Arizona University. Banyak pertimbangan tentunya dalam menentukan pilihan. Tapi akhirnya jatuh hati ke OSU diantaranya karena Ohio gak begitu panas di musim panas, gak begitu dingin di musim dingin, dan jumlah orang Indonesia-nya lumayan. Alasan akademis, ya karena jurusan pendidikan OSU termasuk yang diperhitungkan di tingkat nasional Amerika, terutama bidang pilihan saya; literacy for early and middle childhood.

Berbekal Letter of Acceptance (LoA) dari OSU saya mendaftar beasiswa Dikti LN, Pemda Aceh, dan LPDP dalam waktu bersamaan. Dapat kabar baik dari Dikti karena saya dipanggil wawancara. Sayangnya, reviewer Dikti menganggap saya gak akan bisa “survive” di Amerika dengan pola beasiswa Dikti yang “demikian”. Sedangkan angin segar dari beasiswa Pemda Aceh juga tak kunjung ada kabar sejak saya dinyatakan lolos seleksi, padahal intake LoA saya di OSU Fall 2014. Sampai pada bulan Mei 2014 Pemda Aceh tak kunjung memberi kabar kelanjutan proses beasiswanya, begitu pula LPDP yang masih harus menunggu hasil seleksi administrasi di bulan Agustus.

Saya berinisiatif untuk menunda intake di OSU sampai tahun 2015. Syukurnya OSU memang memberikan peluang itu. Hasil menunggu LPDP pun tak sia-sia. SeptemberĀ 2014 saya dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa LPDP dan dengan mantap saya memilih LPDP sebagai sponsor saya di OSU. Saya ikuti setiap rangkaian proses di LPDP dan September 2015 akhirnya terbang juga ke Columbus!.

Beasiswa Pemda Aceh memang masih lemah dari sisi pengelolaannya. Harusnya saya bisa berangkat tahun 2014 dengan beasiswa ini andai saja mereka “benar-benar” menghubungi saya. Awal tahun 2015 Tuhan mentakdirkan saya bertemu dengan pengelola beasiswa ini mulai dari atasan sampai admin-nya. Usut punya usut katanya mereka sudah berupaya menghubungi saya untuk proses kontrak, tapi gagal. Anehnya, nomor HP dan email saya gak pernah berganti sejak dulu kala. Mengapa mereka bisa gagal mengabari saya? Takdir Tuhan memang lebih indah. Apa yang kita rencanakan belum tentu baik dimata-Nya. Dan Tuhan selalu punya rencana yang lebih baik atas apa yang kita inginkan.

Hikmah lain dari penundaan keberangkatan ini, status sebagai dosen di Universitas Teuku Umar bisa saya selesaikan. Lebih dari itu, ada “cinta” yang telah lama tak terurus, menemukan jalannya. Jadi perjalanan ke Columbus awal September 2015 lalu menjadi lengkap; perjalanan cita dan cinta. Oh ya, saya terbang dari Bandara Cut Nyak Dhien Meulaboh tepat di hari lahir saya 8 September. Sungguh bahagia!.

9.296 mil dari Aceh, Columbus menyajikan tantangan baru bagi kehidupan saya. Setidaknya untuk empat tahun ke depan. Rasa penasaran, senang, rindu, dan kehilangan menjadi teman dalam malam-malam yang tak berujung. Aceh dan Columbus, dua benua dengan dua cerita dan dua waktu yang berbeda.

img_20151216_231232
Scioto Bridge, Downtown Columbus, Ohio

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s