Salju dan Mimpi Masa Kecil


Musim dingin 2015 berhasil melempar saya pada kenangan masa kecil yang indah. Bagaimana tidak? film-film kartun di akhir pekan, film pilihan keluarga saat libur sekolah, gambar, poster, dan segala macam mainan, semuanya melukiskan betapa indah musim salju di negara empat musim. Ditambah dengan cerita-cerita dongeng ala barat, semakin membuat “Salju” istimewa. Anak-anak main ski, membuat boneka salju, saling lempar bola salju, memakai sarung tangan dan jaket tebal, skating, atau sekedar menikmati malam yang dingin di ujung jendela sambil menikmati cahaya bulan yang temaram? “Salju” sepertinya menjadi mimpi besar bagi anak musim tropis seperti saya.

Ingat bagaimana Doraemon dan Nobita bermain alat canggih abad 21 di musim dingin untuk menyelamatkan Shizuka dari ulah jahat kerajaan antabarantah? Ingat bocah Home Alone dengan kreatifnya membuat jebakan untuk mempertahankan rumahnya dari pencuri di musim dingin dengan salju tebal? Ingat cerita Cinderella atau putri tidur yang bernyayi riang gembira saat salju turun? Atau saat Harry Potter bertemu unicorn di pinggir sungai yang beku karena musim salju? Ah mungkin, yang lebih kekininan, serial Game of Throne yang selalu epic dengan ungkapan “Winter is coming…“? Saya memang tersihir dengan indahnya salju dan segala kesenangannya.

Kita tidak pernah tahu rencana Tuhan dan kemana takdir akan membawa kita. Tapi doa dan usaha yang pantas kiranya bisa menjadi acuan apakah mimpi hanya sekedar mimpi atau mimpi akan menjadi kenyataan. Selebihnya tinggal waktu yang akan membuktikan. Saya pun memasukkan “Salju” dalam daftar mimpi yang harus menjadi kenyataan. Salju asli dari Tuhan, bukan salju buatan manusia — walaupun salju manusia juga ciptaan Tuhan. Saya ingin menikmati salju asli yang membuat Harry Potter menggigil kedinginan, salju yang dipakai Kevin – Home Alone untuk membuat boneka salju.

img_1958
Snow in the Oval, Ohio State University

 

Jangan pernah ragu akan kuasa Tuhan! Lahir dan besar di kampung kecil di ujung pulau Sumatera tidak membuat dunia saya sempit dengan ruang gerak yang terbatas. Tumbuh dalam suasana perang dan derita Tsunami yang berkepanjangan juga tidak mengkerdilkan semangat saya untuk berkembang. Sebaliknya, gairah untuk keluar dari keterpurukan semakin menggelora dalam jiwa, bahwa hidup harus diperjuangkan. Pendidikan menjadi senjata saya paling ampuh untuk menumpas tuntas kebodohan dan melesat jauh meninggalkan kampung halaman, setinggi-tingginya. Adakah yang lantas lebih berharga darinya?

Musim dingin 2015 adalah kali pertama saya bisa merasakan salju. Perkuliahan Fall Semester masih berjalan dan sudah mendekati Winter Break. Seminggu pertama salju turun, rasa senang mumbuncah dalam dada. Betapa Tuhan maha agung yang telah menjatuhkan bulir-bulir putih dari langit menjadi karpet putih suci di dunia ini. Musim dingin memang menawarkan pengalaman hidup yang berbeda! Hampir tidak bisa disandingkan dengan tiga musim lainnya walaupun kata Kamelot dengan sinisnya “What does the Winter bring? if not yet another Spring?” Bagi saya musim dingin tetap musim dingin yang menumbuhkan kesenangan masa kecil tak terkira.

Demi mewujudkan mimpi besar 20 tahun lalu, saya pun sudah berniat membuat boneka salju. Mimpi ini pula yang sekarang tumbuh dalam diri keponakan saya, Azra Ramadhani. Dia sangat takjub dengan serial kartun Frozen dan tokohnya yang anggun jelita Putri Anna dan Putri Elsa. Candunya akan salju dan dunia dongeng juga sama dengan saya masa kecil yang menganggap Olaf adalah teman yang asik dan unik untuk diajak main. Jadilah saya mencari informasi lengkap bagaimana caranya membuat boneka salju. Perlengkapan pendukung juga saya siapkan, diantaranya sarung tangan tebal agar gak beku kedingingan yang mengurangi dexterity, penghangat telapak tangan dan kaki sekali pakai, ranting pohon untuk tangannya snowman, dan tentu saja wortel untuk hidungnya. Ternyata membuat boneka salju gak gampang. Kata orang Amerika sih hanya perlu digelindingkan terus menerus dan perlahan akan membesar, samacam teknik snowballing. Tapi cara ini kayaknya sulit diterapkan bagi pemula. Apalagi bagi anak tropis yang mudah beku hanya dalam lima menit berdiri di ruang terbuka dengan salju tebal seperti saya. Jadi saya gunakan cara saya sendiri. Persis sama dengan cara membuat istana pasir di pinggir pantai😀 . Salju saya kumpulkan dan dibulat-bulatin pakai tangan, tempel sana-sini, cukup tradisional! Dan Voila!

img_1987-2
My Snowman

 

 

Mungkin saya menghabiskan lebih kurang satu jam untuk boneka salju ini dengan suhu minus 16 celcius. Gak sebagus yang di film-film, gak sebagus mimpi saya dulu, dan gak sebagus versi orang lokal Amerika. Tapi saya puas karena telah berhasil belajar bahwa gak ada yang gampang di dunia ini, termasuk membuat Snowman! Sayangnya saya lupa membawa syal sebagai pelengkap aksesorisnya. Lebih sayang lagi, saya gagal video call dengan Azra karena dia sudah berangkat sekolah. Pukul 09.00 malam waktu Amerika bagian timur saat itu, pantas saja.

Syukur tiada tara kepada Tuhan yang telah mengizinkan saya menghirup udara musim dingin, menyentuh lembutnya salju, dan menambah makna pengalaman hidup. Dalam syahdunya malam dingin bersalju, rindu yang menggebu, dan pikiran yang tak kunjung mengantuk, Sarah McLahlan mengalunkan Wintersong nya:

“The lake is frozen over
The trees are white with snow
And all around
Reminders of you
Are everywhere I go…”

fullsizerender-2
University Hall, Ohio State University

10 thoughts on “Salju dan Mimpi Masa Kecil

  1. Saya dari dulu pengen pegang salju malah belum pernah kesampaian. Baru merasakan butiran es dan snow flakes saja waktu ke Istanbul dulu. Satu tempat dimana saya bermimpi untuk memegang salju tebal untuk pertama kalinya adalah di Pulau Hokkaido. Semoga saya bisa mengikuti jejakmu membuat snowman, Firman.

    1. Aamiin. Semoga Snowman nya bisa lebih bagus dari bikinan saya ya😀. Hokkaido kayaknya asik, kombinasi laut, gunung, dan salju? Perjalananmu lebih jauh dari saya, Bama, semoga saya juga bisa melangkah ke tempat-tempat itu.

  2. Salju Amerika apa kayak salju Asia ya?

    Hi Mas Firman, di dunia nyata mungkin kita kurang akrab, di media sosial juga, tapi perkenankan saya mengakrabkan diri di dunia blogging. Karena blog adalah dunia asli saya.

    Salam dingin dari Malang.

      1. (((Berkeliaran))) kayak kambing 😂
        Eh, aku baru inget mas, kamu yang ngetes aku bahasa Inggris dengan Pak Yunus buat Mawapres, tapi nggak tahu kamu inget apa nggak 😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s