Pendidikan Literasi: Membaca dan Menulis di Ohio – Amerika Serikat


Tulisan ini telah terbit di UTU NEWS Edisi September 2016.

Belajar tentang pendidikan literasi di Columbus, Amerika Serikat melalui program beasiswa LPDP Kemenkeu RI, membuka cakrawala saya tentang nikmatnya dunia membaca dan menulis masyarakat di sini. Semua orang membaca buku, majalah, atau surat kabar harian di halte, di bus kota, atau di kafe-kafe. Orang tua atau generasi muda duduk di taman kota sambil menikmati buku atau novel ratusan halaman. Siswa merasa malu jika tidak membaca. Mahasiswa menjadikan membaca dan menulis sebagai tradisi ilmiah, sedangkan diskusi menjadi rutinitasnya. Perpustakaan bukan satu-satunya tempat untuk membaca. Bagi mereka membaca dan menulis sudah menjadi budaya yang bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Di Columbus, Ohio, Amerika Serikat, upaya menjadikan membaca dan menulis sebagai budaya sudah dimulai sejak puluhan tahun silam. Dinas Pendidikan mendorong sekolah untuk merancang kurikulum dan program pembelajaran yang mengarah pada stimulus anak mencintai membaca dan menulis sejak usia dini. Bahkan banyak program yang melatih orang tua untuk membaca cerita-cerita dongeng kepada anaknya di rumah. Orang tua yang memiliki anak usia balita selain menyekolahkan anaknya di Taman Kanak-Kanak atau menitipkannya di Taman Penitipan Anak (Children’s Day Care), mereka juga belajar bagaimana mendukung perkembangan membaca dan menulis anak di rumah secara efektif. Dan program-program tersebut dilaksanakan gratis oleh pemerintah lokal secara berkala.

Di sekolah TK, guru-guru dengan kreatifnya membacakan cerita kepada anak-anak di setiap awal pembelajaran. Kegiatan ini juga diikuti dengan latihan pelafalan kalimat dengan penekanan dan intonasi yang tepat. Banyak penelitian yang sudah membuktikan efektifitas kegiatan semacam ini dalam meningkatkan kemampuan bahasa anak yang mengarah pada kemampuan membaca dan menulis mereka.Di tingkat SD kelas satu sampai dengan tiga, setiap siswa diwajibkan membaca dan menulis di rumah melalui penerapan tugas membaca mandiri. Setiap siswa punya reading-log, semacam buku harian membaca, yang berisi berapa lama waktu yang siswa habiskan untuk membaca di rumah dan paraf orang tuanya. Tidak ada patokan menit atau jam. Buku harian itu juga berisi tugas-tugas sekolah lainnya yang harus dikerjakan di rumah seperti menulis. Pada usia ini siswa diharuskan menulis paragraf pendek tentang apa yang sudah dibaca. Saat di sekolah mereka akan diminta untuk menceritakan bacaannya di depan kelas atau di kelompok kecil. Sekolah juga masih menerapkan latihan pelafalan kata atau kalimat yang baik dan benar pada usia ini.

Sedangkan pada kelas empat sampai dengan enam, ada waktu minimal yang ditetapkan sekolah. Untuk kelas lima misalnya, siswa harus membaca di rumah minimal selama 25 menit sehari dengan pantauan orang tua. Dan kewajiban menulis pada level ini mengharuskan siswa menulis esai yang biasanya terintegrasi dengan pelajaran IPA atau IPS. Kewajiban membaca ini terus berlanjut sampai level SMP dan SMA. Yang membedakannya adalah bahan bacaan dan batasan minimal waktunya. Di SMP misalnya, siswa diharuskan membaca buku atau novel kemudian diwajibkan menulis laporan bacaannya di buku harian mereka. Setiap sekolah menerapkan aktivitas yang berbeda dalam rangka membiasakan anak untuk membaca dan menulis. Sekolah diberi otoritas untuk merancang kegiatan literasi ini dengan sentuhan kreatifitas dengan tetap memperhatikan kualitas dan efektifitas kegiatan.
Upaya pemerintah Columbus dalam mencerdaskan generasinya melalui membaca dan menulis tidak sampai di situ saja. Pemerintah bekerjasama dengan perguruan tinggi seperti Ohio State University (OSU) merancang program-program yang mendukung pendidikan literasi. Misalnya meminta Ohio State University melatih guru-guru untuk mengajarkan membaca dan menulis secara efektif melalui program Reading Recovery. Program ini merupakan program One-on-One untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan membaca dan menulis di usia SD. Selain itu, OSU juga mempunyai pusat studi membaca dan literasi yang diberi nama Crane Center for Reading and Literacy. Lembaga ini bertugas melakukan penelitian tentang pengajaran membaca dan menulis ataupun tentang perkembangan anak, baik di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan masyarakat. Selain itu juga bertugas memberikan rekomendasi pada pemerintah terkait implementasi program-program membaca dan menulis bagi pelajar. Maka tidak heran jika pendidikan literasi masyarakat Columbus lebih maju.

Belajar dari Columbus, rendahnya peradaban literasi membaca dan menulis manusia Indonesia tercermin dari ketidaksiapan kaum pelajar menghadapi tantangan abad 21. Misalnya arus perubahan dunia yang begitu cepat menghantam pelajar Indonesia dengan teknologi digital. Tidak terkontrolnya penggunaan telepon pintar, penyalahgunaan internet, dan kecanduan game online menjadi rentetan masalah yang semakin merusak generasi Indonesia. Ditambah lagi dengan dunia yang penuh gejolak dan ketidakpastian, baik dari segi sosial, hukum, maupun politik. Mau jadi apa pelajar Indonesia tanpa membaca dan menulis? Kecenderungan dewasa ini generasi kita membaca, tapi hanya membaca kalimat-kalimat pendek dari instagram atau pesan singkat di twitter. Mereka menulis, tapi hanya menulis kegalauan di dinding facebook. Tidak heran jika hasil studi PISA tahun 2013 (Program for International Student Assessment) menempatkan Indonesia pada urutan dua terendah dari 65 negara peserta. Dan hasil ini lebih buruk dari rangking tahun 2009 di urutan 57.

Pemerintah Indonesia, khususnya Aceh bisa mengadaptasi apa yang dilakukan pemerintah Columbus. Membaca dan menulis semestinya menjadi ruh aktivitas umat manusia karena kalam Ilahi yang pertama turun di muka bumi ini mengharuskan manusia untuk membaca! Peradaban ilmu pengetahuan suatu bangsa dapat dilihat dari seberapa besar manusianya mencintai membaca dan menulis. Tanpa membaca dan menulis tidak mungkin ilmu pengetahuan itu akan tumbuh dan berkembang, pun demikian bangsanya. Universitas Teuku Umar punya peran yang sangat strategis dalam memajukan peradaban di kawasan barat-selatan Aceh. Dengan pola pokok ilmiah yang dibangun, yaitu universitas yang berorientasi pada keunggulan industri pertanian dan kelautan (marine and agro-industry), UTU menunjukkan perhatian yang penuh terhadap masyarakat pesisir. Salah satu perhatian tersebut, menurut saya haruslah mengawal perkembangan literasi generasi endatu Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien. Semangat membaca harus ditumbuhkan, dialektika intelektual dari diskusi atau menulis harus dipupuk dari sekarang. Pola pembelajaran dialogis harus terus dibangun agar kemandirian untuk belajar semakin tinggi. Disamping itu, pembinaan “keorangtuaan” juga harus dimulai hari ini, agar kesadaran orang tua untuk mendukung budaya literasi anaknya semakin meningkat. Apabila UTU bisa menjalankan peran ini bersamaan dengan core product dan sumberdaya yang tersedia, saya yakin UTU akan mengukir sejarahnya yang berhasil meningkatkan sektor pertanian dan kelautan sekaligus mencerdaskan generasi pesisir. Dan peran itu patut menjadi inspirasi bagi wilayah pesisir lain di sepanjang garis pantai Indonesia.***

Firman Parlindungan, S.Pd., M.Pd.
Dosen Universitas Teuku Umar,
sedang melanjutkan pendidikan S-3
di Columbus University, Ohio-Amarika Serikat*

*Koreksi: Penulis belajar di Ohio State University bukan Columbus University.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s