Dari Unisma ke Amerika


Rencana Allah selalu yang terbaik bagi setiap hambanya. Malu rasanya jika pernah terbersit harapan selain dari Nya. Manusia terkadang lupa, menaruh harapan dan doa-doa bukan pada sang Maha pengabul doa; Maha pemberi rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Dari berbagai pengalaman hidup, saya belajar agar jangan ragu akan rencana Allah, bahwa hadiah Allah adalah kejutan terbaik bagi saya. Saya teringat tentang nasehat dari sahabat Rasulullah, Ali bin Abi Thalib: “Berharaplah kepada sesuatu yang tidak kau harapkan melebihi sesuatu yang kau harapkan”. Dengan doa dan usaha yang setimpal, harapan-harapan yang tertanam dilubuk hati akan terwujud seiring waktu berjalan. Kalaupun tidak terwujud, yakinlah Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Bagi seorang mahasiswa Bahasa Inggris, kuliah di luar negeri sudah menjadi mimpi yang mendarah daging. Kurang sah rasanya kalau belajar Bahasa Inggris tidak langsung di negaranya. Makanya banyak mahasiswa Bahasa Inggris yang menjadi pemburu beasiswa agar bisa ke luar negeri; Amerika, Inggris, Australia, atau negara-negara berbahasa Inggris lainnya. Termasuk saya. sejak menjadi mahasiswa Universitas Islam Malang (Unisma) tahun 2007, cita-cita itu tercatat rapi dalam daftar mimpi yang harus diraih. Jatuh bangun mengejar beasiswa dimulai dari mendapatkan sertifikat nilai TOEFL di atas rata-rata. Mugkin sudah puluhan beasiswa yang pernah saya daftar dengan berbagai negara tujuan. Satupun belum menjadi takdir saya. Hingga akhirnya bergelar sarjana tahun 2011, saya memutuskan melanjutkan studi magister dalam bidang yang sama di Unisma juga. Mimpi dan semangat mencari beasiswa ke luar negeri belum pupus sampai saat itu. Usaha terus berlanjut ke ruang-ruang pameran pendidikan tinggi luar negeri, berselancar di situs-situs pemberi beasiswa, dan menulis aplikasi kesana-sini. Sampai hampir menjelang wisuda magister tahun 2013, mimpi saya disambut baik oleh Indonesian International Education Foundation (IIEF) Jakarta.

IIEF memberikan kesempatan saya untuk mengikuti program Talent Scouting pendaftaran ke universitas di Amerika Serikat. Mereka membiayai segala keperluannya. Tapi tidak untuk dana pendidikan. Program ini untuk membantu para pemburu beasiswa di Indonesia agar mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari universitas tujuan. LoA itulah nantinya yang menjadi surat sakti untuk mencari sumber dana pendidikan. Proses yang panjang tidak mematahkan semangat saya. Ini kesempatan langka karena diantara ribuan pelamar hanya puluhan saja yang diterima. Jadi saya termasuk beruntung. Padahal sewaktu mendaftar sudah di ambang batas waktu yang ditetapkan. Tapi yang namanya takdir, ya sudah digariskan.

Selama mengikuti proses tersebut, saya akhirnya memilih Ohio State University (OSU) sebagai pilihan kampus tujuan. Dua kampus pilihan saya lainnya Michigan State University dan University of Arizona. Banyak pertimbangan tentunya dalam menentukan pilihan. Tapi akhirnya jatuh hati ke OSU diantaranya karena Ohio tidak begitu panas di musim panas, tidak begitu dingin di musim dingin, dan jumlah orang Indonesia-nya lumayan. Alasan akademis, ya karena jurusan pendidikan OSU termasuk yang diperhitungkan di tingkat nasional Amerika, terutama bidang pilihan saya; Reading and literacy for early and middle childhood. Berbekal LoA dari OSU saya mendaftar beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Hasil menunggu LPDP pun tak sia-sia. September 2014 saya dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa LPDP. Saya ikuti setiap rangkaian proses di LPDP dan September 2015 akhirnya terbang juga ke Columbus, Ohio!.

oke
OSU Campus on West Lane

Sudah 15 bulan saya di Amerika Serikat. Empat musim sudah dilalui. Saat menulis artikel ini, suhu di Columbus minus satu derajad. Dari luar jendela tampak salju mulai berjatuhan. Putih halus menempel di kaca jendela dan bertebaran menutupi tanah menjadi karpet putih yang indah. Negara bagian Ohio adalah tempat pertama kali dua bersaudara Orville dan Wright menerbangkan pesawatya. Banyak pula tokoh Indonesia jebolan kampus OSU. Contohnya Bapak Budiman Saleh yang saat ini menjadi salah satu direktur PT. Dirgantara Indonesia. Ada sensasi yang berbeda saat belajar di sini. Rasanya seperti dirasuki energi positif bahwa sukses adalah wujud mimpi dengan kerja keras dan doa. Sepertinya saya tidak salah memilih OSU. Semoga suatu saat bisa berkontribusi memajukan Indonesia dalam bidang literasi. Takdir Tuhan memang lebih indah. Apa yang kita rencanakan belum tentu baik dimata-Nya. Dan Tuhan selalu punya rencana yang lebih baik atas apa yang kita inginkan.

Menjadi muslim di Amerika tidak gampang. Banyak tantangan yang dihadapi terutama untuk beribadah lima waktu dan mendapatkan makanan halal. Amerika memang negara yang menjunjung tinggi kebebasan beragama dan berekspresi. Tapi kadang masih ada saja kasus-kasus kekerasan atau pelencehan terhadap kelompok minoritas seperti muslim (khususnya muslimah), African American, Hispanic, atau Native American. Tetapi kasus-kasus tersebut hanya insidental. Tidak sering terjadi dan tidak semua orang Amerika jahat-jahat pada kelompok minoritas. Justru banyak yang melindungi, mendukung, dan memberikan apresiasi kepada kita, muslim.

Pernah suatu hari saya sedang mengerjakan tugas di perpustakaan kampus berlantai 11. Hingga sampai waktu dhuhur saya istirahat dan hendak shalat di lantai empat. Lantai empat memang menjadi tempat shalat mahasiswa muslim lainnya karena lantai ini khusus untuk buku-buku Islam. Jadi bisa dipastikan mahasiswa lain yang tidak berkepentingan tidak ke lantai ini. Sehingga shalat lebih nyaman. Pilihan lain biasanya di ruang-ruang kosong tiap gedung, di bawah anak tangga, atau di interfaith room yang biasa digunakan shalat jum’at berjamaah. Saat itu saya sedang wudhu di wastafel toilet. Tidak seperti toilet di Indonesia, semua toilet di Amerika modelnya kering dan bersih. Jadi agak aneh bagi mahasiswa bule non muslim yang melihat cara kita berwudhu. Apalagi kalau dia tidak pernah punya teman muslim. Saat sedang khusuknya membasuh wajah sampai dengan kaki, tanpa sadar ternyata ada satu mahasiswa yang memperhatikan saya. Dia bilang “It must have been a hard day for you that makes you need to bathing here”. Dia kira saya sudah semalaman di perpustakaan itu mengerjakan tugas yang berat. Sambil tersenyum saya jawab, “I am not bathing, actually I am purifying my soul. It’s time for me to praying”. Dia kaget dengan jawaban saya dan akhirnya kita diskusi panjang tentang Islam. Betapa indah dan damai pecakapan kami saat itu; tentang perbedaan.

Pengalaman lainnya masih tentang shalat. Saat kuliah sedang berlangsung biasanya saya ijin keluar karena waktu shalat selalu jatuh ditengah-tengah jam kuliah. Ada kalanya harus ijin keluar agar shalat tidak terlewat setelah kuliah berakhir. Jadi saya keluar 5-10 menit untuk shalat di ruang-ruang kosong atau di sudut bawah anak tangga. Selesai shalat ada teman non muslim yang menghampiri, “You probably need this one more than I do”. Dia hadiahkan saya sajadah buatan Turki yang dia beli saat liburan ke Turki. Selama ini ternyata dia sering memperhatikan saya shalat. Betapa malunya saya saat itu karena tidak menyempurnakan shalat dengan alas yang layak, malah shalat hanya dengan beralaskan jaket. Padahal di dalam tas saya selalu ada surban yang niatnya memang untuk alas shalat. Tapi tidak pernah saya pakai, dan selalu shalat dengan alas seadanya. Momen itu mengajarkan saya tentang toleransi yang sebenarnya. Ketika ada non muslim yang memperhatikan keutuhan ibadahmu, tidakkah kau harusnya juga berpikir demikian?

Menjadi muslim dan minoritas di Amerika memang tidak mudah. Tapi tidak pantas rasanya menjadikan tantangan itu sebagai alasan untuk menjadi muslim “musiman”. Apalagi bagi saya yang lahir dan besar di bumi Serambi Mekkah dan belajar Islam melalui kultur akademik Universitas Islam Malang yang memegang teguh prinsip al-tawassuth, tawazun, dan al-tasamuh. Saya harus terus berusaha menjadi muslim yang baik, menjadi representasi Islam yang rahmatan lil alamin. Saya telah teduh di bawah panji Aswaja, dan akan terus mengibarkan panji itu, agar Islam tidak lagi manjadi momok bagi warga Amerika. Setidaknya bagi orang-orang di sekitar saya.

img_0663
Downtown Columbus, Ohio

9.296 mil dari Aceh, Columbus telah menyajikan tantangan baru bagi kehidupan saya. Rasa penasaran, senang, rindu, dan kehilangan menjadi teman dalam malam-malam yang tak berujung. Aceh dan Columbus, dua benua dengan dua cerita dan dua waktu yang berbeda. Mimpi-mimpi saya pun terus tumbuh di antara dua waktu itu. Mimpi yang dibalut doa orang tua dan sahabat. Mimpi berwujud harapan tentang Indonesia di masa mendatang. Semoga Allah selalu meridhai setiap langkah ini. Di tengah syahdunya malam musim dingin dan rindu tak bertepi, Rafly melantukan senandungnya, “Saleum”:

“…Salamu’alaikum warahmatullah

jaroe dua blah atueh jeumala

jaroe loen siploeh di ateuh ulee

meuah loen lake bak kaom dum na

jaroe loen siploeh di ateuh uboen

salamu’alaikum loen tegor sapa…”

Advertisements

One thought on “Dari Unisma ke Amerika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s